DT 3

26.8K 2K 15
                                        

DONT FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

HAPPY READING 💛

.
.
.
.
.

Typo? Tandai



Ditatapnya sang Tuan muda yang sudah ia rawat 11 tahun lamanya, wajah kurus itu tampak lebih pucat dari biasanya. Keringat terus - menerus keluar dari dahinya. Wajah itu tampak sayu, terlihat lemah dan menyedihkan.

"Tuan muda, apakah sakit Anda kambuh?" Tanyanya.

Alvin terdiam kaku, lalu menganggukkan kepalanya pelan. Ia mulai berakting, menjadi begitu menyedihkan. Walau karakter aslinya memang menyedihkan tapi kepribadiannya begitu cuek dan pendiam. "Kepalaku pusing" Ujarnya dengan tangan dikepalanya.

Mary mendekatkan diri, ikut meletakkan punggung tangannya di dahi sang Tuan. Hangat, "Kalau begitu, saya akan menyampaikan pada Duke jika Anda hanya akan memakan sarapan dikamar" Lanjutnya. Alvin termantung, tidak. Ini bukan rencananya.

"Tidak~~ Mary. Aku mau sarapan diruang makan bersama ayah dan ibu" Ujarnya dengan nada sedikit manja. Mata itu sedikit berkaca - kaca, sudut matanya terlihat memerah, Mary tertegun. Ini pertama kalinya ia melihat sang tuan muda manja seperti ini. Apalagi tampilan seperti ini, ini.....

Begitu imut.

"Baiklah, Tuan muda ingin sarapan bersama hem?"

Alvin mengangguk, Mary memberi intruksi pelayan wanita dibelakangnya. "Kalau begitu tubuh tuan muda harus dibersihkan dulu setelah itu baru sarapan" Ucapnya dengan senyum kecil diwajah keriputnya. Alvin membiarkan Mary melepas bajunya, biarlah. Walau jiwa nya sudah berumur 19 tahun tapi disini ia masih 11 tahun.

Perlahan tapi pasti, tubuhnya dibersihkan dengan air hangat dengan usapan halus, tubuh ini memang pada dasarnya kecil. Jadi, tak terlalu lama bagi Mary dan Alvin untuk menyelesaikan ritualnya itu. Kini tampillah Alvin yang sudah berganti pakaian.

Ditatapnya cermin didepannya, anak kecil itu tampak lucu dalam balutan jas kecilnya, dasi lucu itu sedikit menutupi bibir tipisnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ditatapnya cermin didepannya, anak kecil itu tampak lucu dalam balutan jas kecilnya, dasi lucu itu sedikit menutupi bibir tipisnya. Membuatnya membrengut tak nyaman.

"Tuan muda ayo, kita sudah ditunggu yang lainnya"

Alvin segera menuju kearah Mary, mengikuti dibelakang wanita tua itu bagai buntut kecil, langkahnya terkadang setengah berlari terkadang setengah berjalan. Rambut rapi nya bahkan kini sudah berantakan entah karena apa.

Ketika sampai di sebuah lorong dengan pintu besar yang menjulang, Sang prajurit yang berjaga didepan membuka dining hall dengan gerakan perlahan, Alvin menatap anggota keluarga lainnya yang sudah duduk dibangku masing - masing.

"Gail" Panggilnya dibenaknya.

"Ya, tuan" Gail, yang selama ini terdiam kini bersuara lewat pikirannya.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang