ARC 3 (DT 25)

9.1K 1K 34
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST

"Apa ini alasanmu kembali?" Licius meliriknya dingin.

"Yah kau benar. Kau memiliki pikiran yang tajam seperti biasa. Aku kembali setelah mendengar berita itu. Tentu saja aku juga ingin melihat kalian" Senyum nya tipis. 4 tahun ini Liam pergi untuk menerima pelatihan ayahnya di pulau pribadi keluarganya. Tiap harinya ia selalu diberi banyak kertas - kertas dengan ribuan kata yang memuakkan. Menjadi seorang penerus keluarga bukanlah sebuah lelucon semata. Ayahnya adalah seorang yang serius. Ini membuatnya harus pergi dengan kertas - kertas yang membuatnya pusing.

Dengan begitu banyak waktu terlewati, ia akhirnya kembali untuk menghirup udara segar. Tentu saja ia senang meninggalkan tempat memuakkan itu. Tapi ada hal yang lebih menarik.

Ia ingat, anak itu. anak lelaki yang begitu manis menatapnya, berkata dengan nada yang kekanak - kanankan. Walau kenangan itu samar - samar. Tapi ia masih dengan jelas merasa tangan mungil yang lembut menariknya, menghaluskan kedua alisnya. Mata bulat itu menatap serius seakan ada hal yang aneh diwajahnya.

Dan fakta besar menyatakan jika anak itu bukan bagian dari Alison. Hahahha lelucon yang bagus. Ia ingin melihat bagaimana ekspresi ketiga temannya ketika mengetahui jika sepupunya ternyata adalah orang lain. Ini menarik.

Dan di sinilah dia. Ditatap oleh 3 pasang mata tajam yang sekilas mirip. Ia tertawa. Begitu lucu melihat 3 orang ini berekspresi seperti itu.

"Ini tidak lucu, bajingan" Asher bersedekap dada, menegak alkohol digelasnya dengan kasar.

"Bagaimana dengan sepupu asli kalian? Dimana dia?" Tanyanya dengan sengaja. Liam adalah orang yang hampir sama dengan Licius. Dia hampir tak pernah mengucapkan banyak kata didalam bibirnya
Namun sekarang pria itu terkekeh lucu dengan kalimat panjang yang menyebalkannya.

"Shut up"

"Bagaimanapun Alvin tetap termasuk anggota keluarga Alison. Fakta itu takkan pernah diubah!" Asher manyaut dengan kasar.

"Itu kau. Kau yang menganggapnya seperti itu. Bagaimana dengan pandangan orang lain? Orang - orang diluar sana mungkin akan mengejek bocah itu"

"Aku tak kan membiarkannya" Liam melirik Licius, Asher  menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Licius.

"Itu urusan kalian, aku takkan ikut campur" Ujarnya. Ia meneguk alkoholnya pelan, memandang kearah udara dan bergumam dengan senandung kecil "Ah..aku susah lama tidak melihat bocah itu, aku akan berkunjung ke mansion paman Albert kapan - kapan" Ujar Liam santai, tak memperdulikan tatapan membunuh yang begitu kentara dari ketiga pemuda didepannya.

.

.

.

.

Hal yang paling menakutkan adalah ketika semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya. Perlahan ia menyadari jika ada sesuatu yang tampaknya mengganggunya. Dimulai dari ibunya, Clare yang diusir dan diceraikan oleh sang ayah beberapa tahun sebelum ia kembali ke kediaman Alison. Dan alvin sebagai putra palsu yang seharusnya diusir ternyata tidak pergi. Tak hanya tidak diusir. Tapi anak itu juga mendapatkan banyak kasih sayang dari ayah dan kakek nya yang tak pernah ia dapatkan dikehidupan sebelumnya.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang