ARC 4 (DT 20)

1.5K 381 55
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST

Nyatanya kata "menghentikan" tidak semudah yang ia kira. Bocah itu termangku memegang dagunya. Berpikir, kini tak ada satu ide pun yang ia pikirkan. Pertama, ia tak tahu dimana Edward. Kedua, ia tak tahu bagaimana menghentikan korupsi kekuatan Edward. Kepalanya mati rasa. "Hah......" Helaan napas panjang keluar dari bibirnya. Cemberut dan menatap langit dengan wajah frustasi. Jika terus begini, ia tidak akan meninggalkan dunia ini!

"Apa yang kau lakukan disini?" Suara datang dari belakangnya, berbalik dan mendongak, ia menatap George yang berdiri diam. Yang dilihat George adalah wajah ditekuk bocah yang tampak suram didepannya. Duduk sendirian menatap kejauhan membuat bocah itu terlihat kesepian.

"Jika kau berdiri disini sendirian, mutan akan menemukanmu dan memakanmu dengan mudah" ujarnya. Walau kadang pendiam, George juga memiliki mulut yang terlalu blak - blakan.

"Aku hanya ingin duduk sebentar" bisik Alvin pelan. Yang dilihat George adalah siluet bocah yang begitu sedih. Ada apa dengannya? Apa anak ini merindukan kedua orang tuanya?

"Kakak kakimu terluka" George spontan menunduk, menatap kakinya yang terdapat sebuah sayatan yang begitu dalam. Bahkan ia tak menyadari luka itu sebelum bocah itu yang mengatakannya.

"Ini? Bukan apa-apa" ujarnya acuh.

"Tapi sepertinya lukanya cukup dalam" bocah itu kini semakin dekat, menatap kearah kakinya dengan wajah serius, berbeda dengan ekspresinya beberapa menit lalu. Walau George merasa sedikit aneh, pemuda itu juga merasa senang atas perubahan ekspresinya. George menatap lukanya, mungkin karena terkena sayatan mutan atau dahan pepohonan, entahlah.

"Aku akan mengobatinya" George mendongak, menatap bocah yang berdiri didepannya. "Percayalah padaku, aku bisa mengobatinya kakak" ujarnya lagi, seolah menyakinkannya. Wajahnya serius. Walau masih ada lemak bayi dikedua pipinya. George dapat melihat sebuah keyakinan dibinar matanya. Yang membuatnya tampak seperti anak kecil membuat George mengangguk dan berkata "Baiklah"

Seorang George tidak pernah membiarkan orang menyentuhnya, apalagi pada seorang bocah yang baru ditemuinya. Aneh, walau begitu iris Hazel pemuda itu mengamati tindakan selanjutnya dari bocah didepannya.

Alvin yang mengamati ekspresi pemuda itu juga sama terkejutnya, pemuda yang memakai pakaian serba hitam dan masker mulut itu adalah pemuda "neat freak" yang mencintai kebersihan. Dalam deskripsi, pemuda tampan yang berdiri diam dengan alis pedang yang sedang mengerut menatapnya itu membenci jika seseorang menyentuhnya. Melihat semua pakaian yang menutup tubuh tinggi proposional dari atas sampai bawah membuktikan hal tersebut benar. Membuatnya ragu. George adalah master taktik, otaknya penuh dengan cara. Walau Edward adalah kaptennya namun George juga berperan banyak dalam grup Abyss. Pemuda itu seperti bayangan yang dingin dan kejam yang diam - diam mengarahkan senjatanya pada musuh.

George menatapnya dari atas hingga bawah. Melihat anak kecil itu ragu - ragu membuatnya bingung. Bukankah bocah itu yang menawarkan diri menyembuhkannya? bukan dia.

"Apa yang kau tunggu?"

"Ah! Ya... Aku lupa" dan bergegas mendekati luka sayatan itu.

George pikir, yang dimaksud dengan "menyembuhkan" anak itu adalah menemukan dedaunan herbal atau membalut lukanya dengan cara yang sederhana, tapi ia tak tahu jika bocah ini juga memiliki kekuatan penyembuhan! Tak pernah sekalipun George melihat cahaya hijau yang begitu berkilauan seperti ini. Begitu ringan, dan begitu hangat. Tak hanya luka dibetis kirinya, kulitnya yang sensitif terhadap sentuhan juga tidak merasa tak nyaman dan fluktuasi energinya di tubuhnya yang selalu tegang kini sedikit mengendur.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang