DT 32

16.9K 1.5K 17
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST





"Ada kah yang ingin kau katakan?" Alaric duduk disofa kebesarannya, tangannya bersedekap dada menatap Edward yang duduk didepannya. "Seperti yang ayah lihat" Jawab pemuda itu.

"Sudah berapa kali ayah katakan? Tadi pagi ayah sudah memperingatimu untuk menjaga adikmu. Tapi apa yang ayah dapatkan?"

Edward menggigit bibirnya "Lain kali takkan terjadi lagi"

"Tidak terjadi lagi? Kau juga mengatakannya pagi tadi. Tapi apa yang kudapatkan sekarang? "Alaric mendengus.

"Kembali ke academy, tidur diasramamu sampai aku mengijinkanmu untuk kesini"

"Tidak"

Brak

"Kau berani membantahku? Ini hukumanmu" Ujar Alaric.

Edward mendengus kesal, apa ia tidak boleh melihat adiknya lagi? Tidak lagi.

"Aku akan tetap disini" Jawabnya tak kalah tajam.

"Jangan membuatku marah, Edward Eddy Dutchill" Alaric menatap tajam Edward Mengeja nama panjangnya didepan wajah sang putra ketiga. Jika Alaric sudah seperti ini, tandanya pria paru baya itu benar - benar marah. Edward berdiri, matanya menyiratkan kejengkelan. Dan berlalu pergi dengan membanting pintu.

Alaric memijit pangkal hidungnya sedikit lelah. Pintu yang tertutup kini terbuka. Nampak Maria dan Josh yang datang dengan wajah khawatir yang begitu kentara.

"Dimana Alvin?" Kini Josh langsung memotong apa yang ingin Maria katakan. Pria itu masih memakai seragam Kerajaan dengan wajah yang sedikit berantakan. Ia langsung kesini setelah mendengar sang adik terluka. Alaric meliriknya "Dia sedang tertidur. Jangan mengganggunya" Ujar pria itu.

Namun bukan Josh namanya jika mendengarkan perkataan sang ayah, pria itu langsung bergegas kearah kamar Alvin yang dijaga 2 penjaga didepannya. Meninggalkan Maria dan Alaric yang sudah menghela napas pasrah.

"Siapa yang berani melakukannya pada putraku?" Maria bertanya dengan tatapan tajam. Tangannya mengerat. Ia mendengar jika si bungsu hanya terjatuh tapi ia juga mendengar jika ada yang mendorongnya.

"Aku tak tahu, Maria" Jawab Alaric.

"Bagaimana kau tidak tahu?!! Kau tidak bertanya pada Edward?"

"Aku terlalu terbawa emosi sehingga lupa untuk menanyakannya"

"Salam saya pada Duke Dutchill dan Duchess" Ron datang mengintrupsi dengan selembaran kertas di tangannya. Menyerahkan surat itu kepada Alaraic dan Maria yang saling pandang. Surat itu dari Albert dengan stempel komite kedisiplinan dibagian depannya. Alaric membacanya.

"Gabriella Lily" Ujarnya.

"Hah?"

"Gadis yang mendorong putra kita, Maria" Tatapan Maria kini berubah tajam.

"Dari keluarga mana dia? Bangsawan dikawasan mana?" Tanyanya.

"Gadis itu hanya seorang Commoner"

"Commoner kau bilang?"

"Ya"

Alaric dan maria saling pandang, mereka kira yang mendorong si bungsu adalah seorang bangsawan mengingat sikap bangsawan yang terkenal sombong. Namun, kenyataannya tidak sesuai dugaan mereka. Seorang Commoner berani mendorong seseorang yang
Status kedudukannya lebih tinggi darinya. Ini terdengar lucu.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang