DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON
🚛
HAPPY READING💛
.
.
.
.
.
ALL PIC BY PINTEREST
Kereta kuda berlambang Duke Dutchill itu berjalan keluar dari mansion, membelah lautan manusia yang saat ini menatap penasaran kedalam kereta. Alvin, bocah itu menatap seragam di tubuhnya dan kembali menatap sang ayah yang duduk didepannya.
"Kau yakin?" Alaric yang sedari tadi memperhatikan senyum putranya kini mendengus tak suka. Ia tak mau membiarkan putranya keluar dari pengawasannya, dan ini membuatnya kesal. Alvin mengangguk bersemangat, menatap kearah jendela kereta dengan tatapan binar di Iris jade hijaunya.
Kehidupan aslinya dan hidup ini memiliki sistem yang sama, yaitu raja sebagai pemerintahan tertinggi. Tapi tentu saja mau dilihat dari sisi manapun banyak hal yang berbeda diantara keduanya.
Disetiap jalan dikehidupan aslinya terdapat robot dan bangunan besar tinggi yang menjulang ohh jangan lupakan kendaraan yang senantiasa menghiasi langit. tapi disini berbeda, bangunan itu masihlah rumah kayu yang dibuat secara tradisional. Tak ada kendaraan hanya ada kereta kuda itupun yang memikinya hanyalah kaum bangsawan, Iris nya menatap setiap orang yang masih berdagang disisi jalan, menjajakan jualan mereka. Dan Alvin baru pertama kali melihatnya. Ia juga melihat beberapa rakyat biasa (Commoner) yang menari dijalanan dengan riang dengan anak kecil yang berlari mengejar satu sama lain dengan tawa diwajah mereka.
Kalau dipikir - pikir lagi, sebagian anak dikehidupan aslinya bahkan sudah mengerti yang namanya video game, real estat, teknologi terkini dan jarang terlihat bermain seperti ini.
Alaric melihat senyum Alvin dari duduknya. Ia mengira jika anak nya iri melihat orang - orang diluar sana, irisnya memperhatikan wajah putranya yang menatap sekelompok anak yang bermain dengan senyum manisnya. muncul wajah sendu diwajah dinginnya. Anak bungsunya sudah lama sakit, tubuhnya lemah dari anak biasanya. Apa anaknya mau merasakan bermain seperti orang diluar sana?
"Ayah" Lamunan Alaric buyar setelah mendengar suara manis yang keluar dari mulut sang putra.
"Ada apa, hem?"
"Ibu...." Anak itu kemudian menunduk. Ahh Alaric lupa, beberapa menit lalu ketika sang putra meminta untuk kembali ke Academy, sang istri menentangnya. Walau dengan sedikit pertentangan dengannya, sang istri akhirnya menerimanya dengan syarat jika Alvin tidak boleh menginap di asrama Academy. Melainkan langsung pulang ke mansion.
Bolak balik Academy - Mansion sudah pasti merepotkan. Tapi karena Maria kekeh akhirnya Alaric juga setuju, agar sang putra aman ke depannya.
Alaric membawa Alvin kepangkuannya dan membawa tubuh sang putra kedalam pelukannya. "Tak apa, ibu tidak marah padamu. Ia hanya tidak menerima keputusanmu. Mungkin cepat atau lambat ia pasti akan menerimanya" Mendengar penuturan lembut Alaric, Alvin di dekapan mengangguk lucu, seperti seekor ayam yang mematuk makanan.
"Terima kasih, ayah" Alvin mencium pipi sang ayah, berterima kasih karena ucapan menenangkan yang dilayangkan sang ayah, matanya menyipit dengan gigi kelinci di antara belah bibirnya.
Ahh,,,, Alaric tidak mau jauh - jauh dari sang putra. Ia semakin membekap tubuh sang putra erat, mencium bau bunga lavender lembut yang mengguar dari tubuh kecil itu. Ia pasti akan merindukan putranya ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
( TRANSMIGRATION) Dimensional Transmission
Fantasía[BrotherShip Story] Alvin, pemuda tanggung itu kini terseret kedalam teknologi buatannya sendiri, "Dimensional Transmission" Disuruh memainkan alur cerita berbeda - beda dan mengubahnya demi menyelamatkan hidupnya. "Gail? Apa yang terjadi?!!" "Sep...
