DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON
🚛
HAPPY READING💛
.
.
.
.
.
ALL PIC BY PINTEREST
Setelah Albert pulang, pemandangan bocah itulah yang memasuki pandangannya pertama kali. Anak itu sedang bermain sendiri diruang tamu. Tak ada Clare dan juga Sara. Duduk disamping bocah itu, Albert memberinya beberapa permen dari kantungnya.
"Ayah, buatku?"
"Hn"
Wajah itu tampak berseri - seri, menerjang tubuh ayahnya dengan bahagia dan tertawa dengan menyenangkan. "Ada apa dengan lenganmu??" Albert menatap sebuah ruam kebiruan yang hampir pudar dilengan di kecil, menautkan alisnya dengan tajam wajahnya menjadi begitu gak sedap di pandang.
Bocah itu sedikit tersentak, Alvin tahu jika Albert adalah orang yang tajam. Tapi ia juga tak berharap Albert akan menyadarinya secepat ini.
Wajah terkejutnya tak luput dari iris Albert. "Ada apa dengan lenganmu, mengapa seperti ini, hem?" Suaranya menjadi lebih lembut, tangannya mengusap lembut surai sang putra yang bergetar dipelukannya. Mencoba membujuknya untuk menggali informasi dari bibir kecilnya.
Namun, bocah itu menggeleng. Memainkan jemarinya dengan gerakan kaku dan kemudian terisak kecil. Seperti binatang kecil yang tidak berdaya. Membuat emosinya entah mengapa memuncak.
Sial, siapa yang berani melakukan itu pada putranya!
"Sara!!" Teriakan itu menggema.
Wanita paruh baya yang dipanggil itu berlari tergesa - gesa ke ruang tamu, sepertinya wanita itu sedang memasak terlihat dari noda sup di lengan bajunya. Melihat wajah tuannya yang buruk, membuat nya merasa ada yang tidak beres.
"Ada apa Tuan?" Tanyanya. Albert tak berkata apa - apa. Tapi menunjukkan lengan kecil itu di hadapan Sara. Membuatnya terkejut. Bukannya Albert menyalahkan Sara. Tapi putranya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sara. Ia hanya ingin bertanya.
"Astagah... Ada--ada apa dengan lengan Tuan kecil?!" Serunya. Lengan itu dipenuhi warna merah bahkan ada yang hampir membiru seperti lebam. Tak hanya satu namun ada beberapa lagi disetiap incinya. Sejujurnya Sara tidak sedikitpun menyadari ruam itu dilengannya.
Alvin menyadari keterkejutan Sara, Bagaimana wanita itu tau jika ia diam tak mengatakan apa pun. Si kecil yang menutupi wajahnya dipundak sang ayah tersenyum kecil. Tentu saja Sara tidak tau. Karena ia baru saja menambahkan ruam dengan mencubit dirinya sendiri?
Hahaha, bagaimana pun, Clare hanya meninggalkan satu dua cubitan, walau sakit namun hanya meninggalkan sebuah merah samar dikulit pucatnya, untuk menambahkan kesan yang sempurna ia hanya menambahkan beberapa dengan mencubit dirinya sendiri walau ia harus menahan rasa sakit.
Sara dan Albert sama - sama terdiam. "Sara bawa Alvin kedalam, obati ruamnya" Sara mengangguk, menarik tubuh si kecil yang memberontak kedalam kamar dengan panik. Sedangkan Albert melangkah ke halaman belakang, mengambil telepon genggamnya. Dan menekan beberapa nomor.
Suara sambungan telepon berbunyi terus menerus melalui telinganya, berdengung dan bergetar. Tut.... Tut... Tut
"Halo? Ada ap--
"Jack, datang sekarang juga ke mansion ku. Aku tak menerima kata terlambat" Dan menutupnya dengan singkat. Tak menghiraukan telepon yang kembali berbunyi dengan nama Jack yang terpampang, ia membuangnya sembarang dan duduk disofa kebesarannya dengan hembusan napas kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
( TRANSMIGRATION) Dimensional Transmission
Fantasy[BrotherShip Story] Alvin, pemuda tanggung itu kini terseret kedalam teknologi buatannya sendiri, "Dimensional Transmission" Disuruh memainkan alur cerita berbeda - beda dan mengubahnya demi menyelamatkan hidupnya. "Gail? Apa yang terjadi?!!" "Sep...
