DT 24

17.4K 1.6K 11
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST



Alfred menatap jengah pandangan memuja yang dilayangkan padanya. Jujur ia tidak terlalu suka acara seperti ini. Dan tentunya ini adalah acara resmi yang pertama ia hadiri di umur nya yang ke 16 tahun.

Bukan tanpa alasan. Ia begitu biasa dibandingkan kedua kakaknya. Ia bukan sang kakak pertamanya, Lancelot Drio Alberrus, yang pandai berpedang dan memimpin prajurit ketika perang, ia juga bukan Hegen Drio Alberrus, sang kakak kedua yang pintar merancang strategi dan selalu menyibukkan diri dengan berkas - berkas yang menumpuk diistana.

Ia berbanding terbalik, ia benci peraturan, arogan, dan selalu bertindak semaunya. Jadi ketika sang ibu menyuruhnya untuk menghadiri pesta kerajaan Orion jauh diperbatasan utara tentu membuatnya kesal. Yang paling utama adalah ia benci pesta. Ia benci.

Bruk

Tubuhnya limbung kesamping, ia terdorong dan terjatuh, mood nya yang sudah buruk kini bertambah buruk, siapa bajingan yang berani menabraknya?

"Siapa yang berani menabrakku, sialan" Raungnya, pemuda itu bangkit menatap sang pelaku yang kini juga terjatuh membelakanginya.

'Bocah?' Batinnya.

Bajingan mana yang membawa bocah ke pesta besar seperti ini?!

Alvin mengaduh, persetan dengan tubuh lemahnya ia meruntuki posisinya. Bagaimana mungkin ia yang menabrak namun ia yang terdorong begitu kencang, apa tubuh Alfred terbuat dari batu? Mengapa begitu keras?

"Tuan, plot naik menjadi 75%" Suara otomatis Gail bahkan tidak membuat nya senang, ia harus memikirkan alasan apa yang cocok untuk tindakannya.

"Hey, Kau" Alvin tersentak, berdiri dari duduknya, lantas berbalik menghadap Alfred yang sudah bersedekap dada di di depannya.

Alfred tak tahu kata apa yang cocok untuk pria kecil yang kini sudah menghadapnya, "Jika seseorang bicara padamu, bukankah kau harus menatap matanya?" Ujarnya lagi. Alfred dapat melihat jika bocah itu sedikit ragu tapi perlahan mengangkat wajahnya. Lidahnya tiba - tiba saja kelu, sedikit ragu melihat tatapan berkaca - kaca di depannya, dapat ia lihat jika kaki bocah itu lecet dan mengeluarkan sedikit darah. Tunggu - tunggu ketika ia malah merasa kasihan?!! Bukankah ia yang menjadi korban disini?!

"Alfred~~~ bantu aku, aku kesakitan" Suara mendayu yang begitu manis itu terdengar, membuat Matanya memindai seorang gadis yang ikut terjatuh disamping prajurit nya. Alisnya mengkerut tanda bingung, mengapa hanya ia yang ditabrak tapi gadis entah dari mana tiba - tiba ikut terjatuh.

"Siapa kau?" Tanyanya bingung. Tatapannya beralih pada Aron, prajurit setianya yang berdiri menghadang gadis itu.

"Maaf Pangeran, Nona ini tiba - tiba saja berlari kearah Pengeran. Jika saja bocah ini tidak ada mungkin saya tidak akan menyadari jika Nona ini mengincar pangeran" Ujar Aron yang melirik kearah Alvin membuat Alfred semakin bingung.

"Alfred~~" Alisnya semakin mengkerut, mengapa gadis ini tahu namanya?

"Kenapa kau tahu namaku? Dan kualifikasi apa yang kau miliki hingga berani memanggil nama kecilku?!" Lily yang masih mengusap bagian kakinya kini melonjak, ia mengadah. Bukan Alfred didepannya melainkan seorang prajurit yang kini memandangnya dengan tatapan hina.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang