DT 25

18.4K 1.5K 7
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST


"Sakit?"

"Iyah"

"Rasakan"

"Kakak~~"

"Jangan mengeluh, itu akibat tidak mendengarkanku"

"Ibu"

"Edward jangan membentaknya" Peringat Maria.

Edward memandang luka dikaki sang adik, mengelus nya perlahan dan menaburi obat yang diberikan Mary padanya beberapa menit lalu, tangannya tak berani menekannya terlalu keras, kaki itu terlihat kecil bahkan ia bisa membayangkan jika kaki itu muat digenggaman tangannya.

"Kakak, aku janji tidak akan seperti itu lagi, jangan marah padaku" Ditatapnya wajah sang adik yang kini memandangnya dengan mata bulatnya. Bibirnya mencebik lucu dengan sebagian mata yang tertutupi oleh poni yang sedikit berantakan.

Edward membuang wajahnya, tidak akan terbuai oleh wajah sang adik, itung - itung sebagai pelajaran bagi si kecil agar tidak selalu mendekati orang asing sembarang.

Alvin bertambah kesal tidak mendapatkan respon dari sang kakak, ia mendekat, tangan kecilnya menahan pipi Edward dari kedua sisi, tak membiarkan Edward untuk memalingkan wajahnya bibirnya manyun mencium pipi sang kakak bergantian membuat wajah tampan Edward dihiasi oleh air liur sang adik "Maaf.... kakak" Ujarnya lirih.

Ahhh.... Memang Edward selalu tidak tahan dengan adiknya ini, mau marah pun jika dihadapkan dengan wajah itu tentu saja ia tak akan bisa bertahan. Ia kalah telak.

"Lain kali jangan ulangi, oke?"

"Oke!" Ucapan bersemangat itu terpancar diwajah tersenyum Alvin, gigi kelincinya nampak, begitu lucu seperti seekor kelinci kecil.

"Ibu, ayah dimana?" Alvin kini berbalik menatap sang ibu yang sedari tadi melihat interaksinya dengan secangkir teh di tangannya.

"Alaric sedang ada urusan bersama Yang Mulia, mungkin sebentar lagi akan pulang"

"Duchess" Intrupsi Ron membuat Edward, Maria dan Alvin kini mengalihkan atensinya pada Butler paru baya yang menghampiri Maria.

"Ada apa, Ron?"

"Ada tamu didepan, pangeran ketiga Alberrus meminta bertemu dengan Tuan muda Alvin" Ujar Ron dengan kepala yang sedikit menunduk.

Edward mengernyit, mengapa pemuda itu datang kemansionnya?

"Katakan padanya jika mansion Dutchill tidak menerima tamu saat ini" Ujarnya dingin. Ron sedikit ragu namun tak ayal pria paruh baya itu tetap melaksanakan perintah sang Tuan muda. 

Setelah kepergian Ron, Alvin termangku. Ia juga bingung kenapa pemuda itu berkunjung ke kediaman Dutchill bukankah Alfred seharusnya masih menikmati pesta di aula kerajaan Orion? Niatnya hanya untuk menggantikan Lily dan setelah itu ia tak berniat bertemu lagi dengan pemuda itu. Tentu saja Alfred pasti akan kembali ke kerajaan Alberrus yang berada diperbatasan Selatan. Begitu jauh dari  Kerajaan Orion yang berada di Utara.

Misi terkait Alfred sudah selesai, ia sudah mencegah Alfred agar jatuh cinta pada Lily dan secara bersamaan membuat citra Lily tidak terlalu baik dimata pemuda itu. jadi ia tak ada lagi urusan yang terkait pemuda itu.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang