ARC 4 (DT 12)

1.8K 329 16
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST

Srak....srak....Srak

"Bu suara apa itu?"

"Ststttt jangan bersuara"

"Kenapa?"

"Nanti mereka akan mendengar?"

" 'Mereka' siapa, Bu?"

"Makhluk mengerikan yang bisa membunuh kita semua"

Suara itu......seperti datang dari balik dinding. 

Seperti gesekan, berpacu saling bersautan dan geraman hingga hilang ditelan udara.

Padahal gerbang dinding belum dibuka, tapi sepertinya mereka sudah disambut salam perkenalan? Apa para mutan bisa mencium bau manusia dari jarak sejauh ini? Ronert menatap sekeliling, tentu saja. sekumpulan manusia ini seperti sajian santapan pesta untuk para mutan diluar sana.

"Sepertinya para mutan itu tak sabar bertemu kita" Raon tertawa kencang, seolah - olah suasana yang tegang ini adalah hiburan tersendiri baginya.

Berbeda dengan para hunter, beberapa warga biasa memiliki banyak ekspresi diwajah masing - masing. Bertanya - tanya apa keputusan untuk keluar dinding adalah jalan yang benar? Tentu saja penyesalan selalu datang pada saat - saat terakhir.

Tak ada yang pernah melihat makhluk diluar sana kecuali para hunter, namun karena suara itu nyaris membuat seluruh pasang mata meratap ketakutan.

"Kau belum meminum Exilir mu?" Sebuah suara memecah keheningan, Maxime menatap wajah Edward yang berkeringat.

Pemuda bersurai legam yang ditanya itu tak langsung menjawab, netra tajam nan pekat menatap sekeliling, urat dilehernya mencuat seperti menahan rasa sakit yang teramat sangat, "Tak ada gunanya meminum ramuan itu" ujarnya singkat, Exilir biasa hanya dapat menjeda rasa sakitnya sebentar. Tak akan mengubah apapun.

"Setidaknya Exilir membantu mengurangi setengah rasa sakitnya" Dari samping George menimpali. Kedua pemuda itu saling pandang. Satu dengan pandangan datar satu lagi dengan pandangan biasa. "Jika kau kehilangan kendali kau akan membahayakan kami semua" Lanjut George sebelum memalingkan wajahnya.

Edward hanya diam, dadanya terasa terbakar. Rasanya begitu menyiksa. Tubuhnya seperti terbelah dua oleh efek korupsi kekuatan yang saat ini mengamuk didalam tubuhnya. Mencoba mengambil alih.

"Bunuh mereka!"

"Cepat, habisi semuanya!"

"Bunuhh!"

Suara suara dikepalanya benar - benar mengganggu.

"Aku setuju untuk mengikuti kalian tapi kalian tidak pernah mengatakan tentang keluar dinding !!" Sela seorang gadis. Seperti tak tahu suasana mencekam yang terjadi,  gadis itu bersedekap dada angkuh. Menatap keempat pria yang menatapnya balik dengan tatapan tajamnya.

Seperti heroin pada umumnya, sosoknya sangat cantik penuh vitalitas seorang gadis anggun yang pemberani. Rambut pirang panjangnya dikuncir pony tale memperlihatkan lehernya yang jenjang, dengan jubah warna merah yang menutupi pisau kecil diantara pinggangnya. Tidak seperti gadis lainnya, gadis itu menatap sekitar begitu tajam dan menusuk. Seperti seekor kucing yang diinjak buntutnya, tampak begitu waspada.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang