[BrotherShip Story]
Alvin, pemuda tanggung itu kini terseret kedalam teknologi buatannya sendiri, "Dimensional Transmission" Disuruh memainkan alur cerita berbeda - beda dan mengubahnya demi menyelamatkan hidupnya.
"Gail? Apa yang terjadi?!!"
"Sep...
Banyak orang yang akan berkata. Jika kita bahagia kita akan melupakan segalanya. Namun jika kita jatuh ke titik paling rendah kita akan mulai memikirkan segalanya. Hal itulah yang terjadi pada Clare. Raut bingung wanita itu begitu aneh menatap pelayan wanita yang menyerahkan kartunya.
"Maaf kartu ini tak bisa digunakan"
"Apa maksudmu tidak bisa digunakan?!"
"Bagaimana dengan kartu ini?" Tangannya kembali merogoh kartu hitam premium yang begitu indah. Namun jawaban si pelayan tetap sama.
"Ini juga tak bisa digunakan"
Dengan gaun mewah yang tampak mahal hanya dalam sekali lihat. Dan semua aksesoris yang ia pakai membuat mata orang - orang yang berada di toko itu iri. Tapi sekarang mata orang - orang itu hanya dipenuhi cemoohan. Clare suka pandangan iri yang tertuju padanya. Penghormatan dan segala tatapan kagum yang tertuju kearahnya tapi saat ini ia hanya ingin menghilang dari pandangan orang-orang ini.
Toko ini adalah toko mainan terbesar di ibu kota.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dan tentu saja harganya pun mahal. Ia memandangi boneka dan mainan lainnya dengan mata bingung. Mengeluarkan uang cash nya yang tak seberapa. Dan berkata dengan suara malu.
"Aku hanya membeli 2 mainan ini saja" Dan membayar nya kekasir. Tadinya ia bahkan harus membawa 3 keranjang untuk menempatkan mainan - mainan besar itu. Tak sabar menantikan respon putri nya kelak. Tapi sekarang ia hanya memilih mainan paling kecil dan murah.
Mata pelayan wanita itu sedikit aneh. Tapi tetap melayaninya dengan sopan. Ketika selesai mengemas barang - barang itu, Clare keluar dari toko dengan raut jengkel. Menekan nomor Albert berkali - kali walau hanya sambungan ditolak yang selalu tertera. Ia merasakan firasat buruk.
Dan pada saat ia keluar mobil hitam nya bahkan tak ada disana. Kemana sopir nya pergi???? Dengan bingung ia mencoba meneleponnya namun tak ada respon apapun. Dan terpaksa mulai mencari taxi murah untuk kembali kemansion.
Kejadian buruk ini berturut - burut datang padanya hari ini. Seperti sebuah kesialan. Ia bertanya - tanya mengapa Albert memblokir kartunya? Tapi tak ada alasan yang dapat ia pikirkan.
Pada pukul 4 sore tepatnya Clare kembali.
"Nyonya, kami sampai" Suara pria paruh baya itu membuat pemikirannya kembali ke kenyataan. Merogoh uang cash terakhirnya dan menyerahkannya. Ia berjalan kearah mansion. Membukanya. Dan melihat Albert dan putranya tengah bercanda ria.