[BrotherShip Story]
Alvin, pemuda tanggung itu kini terseret kedalam teknologi buatannya sendiri, "Dimensional Transmission" Disuruh memainkan alur cerita berbeda - beda dan mengubahnya demi menyelamatkan hidupnya.
"Gail? Apa yang terjadi?!!"
"Sep...
Tahu pribahasa Bagaikan api memakan ilalang kering, tidak dapat dipadamkan lagi?
Mungkin pribahasa itu sangat cocok untuknya saat ini.
Setelah kembali bersama Licius ia mendapati kalau grup Voltmore sudah pergi untuk memeriksa Base 2 yaitu tepat disebrang timur hampir dekat dengan posisi Elementhe menyisakan orang - orang didepannya ini.
"Mengapa kau bersama dengannya?" Enord mendekati Licius dengan nada enteng menatap bocah yang berdiri diam.
"Itu bukan urusanmu" Licius meliriknya sekilas dan berjalan kembali ke Base 1. Base 1 adalah sejenis bangunan rumah kosong yang didirikan diatas pohon yang sengaja dibangun tinggi agar tidak bisa digapai oleh para mutan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bola mata besar itu menunduk kaku, mengernyit kan dahi pelan menghindari beberapa pasang mata yang menatapnya serius. Seolah tidak perduli dengan jawaban ketus Licius Enord bersiul rendah. "Sepertinya mereka meninggalkanmu Disini sendirian" dengan nada main - main.
Alvin mendongak, bersitatap dengan rupa sang kakak didunia asli membuatnya sedikit aneh. Enord tak pernah memperlakukannya seperti ini. Walaupun didunia asalnya sang kakak memiliki sifat ketus, dan berapi - api namun jika sudah berbicara padanya hanya ada kelembutan Dimata dan nadanya.
"Jangan meledeknya Enord" George memutar mata lelah. Melerai Enord dengan santai.
"Ada apa~~ aku hanya bercanda" sahutnya.
Bocah itu mendongak, karena malam Enord bisa melihat jelas sudut matanya memerah.
"Tunggu kenapa matamu merah?"
"Apa?"
Enord mengernyit merasa tak nyaman, apakah ia baru saja menggertak anak ini? Hey, aku hanya bercanda oke.
"Apakah kau menangis?" Tanyanya tak nyaman.
Alvin memiliki raut bingung diwajahnya, jelas ia tidak menangis. Itu karena ia menggosoknya terlalu kencang semasa diperjalanan bersama Licius karena gatal membuat matanya memerah.
"Aku tidak menangis" cicitnya pelan.
Tsk, masih saja menyangkal.
Mata bulat yang seperti kucing itu jelas terlihat layu. Tiba - tiba rasa bersalah merasuk didalam hatinya.
"Hentikan, sebaiknya kita cari Edward secepat mungkin" George yang mengamati dari samping kembali menyaut. Enord ber--tsk-- rendah, menatapnya lamat dan pergi begitu saja meninggalkannya.