ARC 4 (DT 3)

7.6K 1K 131
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST

"Sudahkah kau berdiskusi dengan Edmund mengenai dinding distrik E?" Ujar pemuda itu.

"Apa yang harus didiskusikan? Pria tua itu takkan perduli tentang mati dan hidupnya orang - orang itu"

"Dasar keparat"

"Sudah kubilang orang - orang  dari federasi sangat picik" Enord mendengus kasar.

Salah satu pemuda menoleh, wajahnya begitu tampan dan dingin. Sorot matanya sangat kejam. "Dia sudah melewati batas" Gumamnya dengan nada rendah.

Keempat pria itu berdiri bersebelahan, wajahnya sudah terpampang jelas dari pada saat memakai tudung. Jelas mereka adalah kumpulan pria tampan. Dan kepribadian mereka hampir sama.

Dingin.

Keempatnya saling pandang "Bukankah kita harus segera bertindak?" Tanya Enord pada pemuda yang sedari tadi terdiam.

.

.

.

.

Sinar matahari keemasan memotong awan menjadi garis lurus, mengarungi kota distrik D yang ramai. Serta membawa angin yang semilir membawa dedaunan keudara.

Tampak sangat damai, tapi nyatanya semuanya tidak sesuai dengan keadaan saat ini.

Distrik D sangat kacau. Walau distrik E diisi oleh orang - orang biasa, mereka bisa hidup damai sejauh ini. Namun disini berbeda. Penjarahan, pemukulan, pemerkosaan, segala tindakan kriminal dapat terjadi disini.

Distrik D diisi oleh para hunter tingkat rendah. Mereka ibaratkan para gengster yang diberi kekuatan, jadi mereka melakukan segala tindakan sesuka hati seolah berkuasa disini.

Seperti saat ini.

"Kalian hanyalah orang - orang yang tidak berguna!! Sampah! Dan sampah ini sekarang mengotori wilayah kami. Bisakah kami terima?!" Pria berotot dipenuhi tato berteriak keras, disampingnya terdapat beberapa anak buahnya dengan tampilan yang sama.

Alvin memutar bola matanya jengah, bukankah seharusnya mereka memarahi orang - orang federasi yang menempatkan mereka disini? itu lah yang seharusnya pria itu lakukan. Bukan mereka. Bahkan jika mereka ditanya ingin tinggal dimana, tentu saja mereka akan berkata dinding distrik S dengan keras.

"Semuanya tidak akan gratis. Tentunya kalian harus membayar biaya tinggal disini, agar kedamaian tetap tercipta. Bukankah begitu?"

"Tapi... Ta--tapi kami bahkan tidak memiliki poin sedikitpun" Sebuah suara menginterupsi, nada nya tak berdaya. Ia adalah seorang pria paru baya yang memeluk cucunya.

"Apa aku menginginkan poinmu?!! Hahahahah, bahkan orang bodoh pun tau orang - orang tidak berguna seperti kalian pasti tidak akan pernah memiliki poin" Tawa terdengar, semakin lama semakin kencang. Mereka ditertawakan.

Posisi mereka dikelilingi oleh orang - orang distrik D. Seperti seonggok sampah yang krubungi lalat. Kami adalah sampahnya. Dan mereka adalah lalat. Sama - sama tidak berguna, tapi lalat lebih baik dari pada sampah. Yahh... Para hunter tentu dilebihkan daripada mereka yang notabenya orang biasa.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang