DT 21

19.2K 1.8K 19
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST








Edward melngkahkan kaki kelorong - lorong Academy, wajahnya dingin seperti biasa tapi terdapat gurat kejengkelan disana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Edward melngkahkan kaki kelorong - lorong Academy, wajahnya dingin seperti biasa tapi terdapat gurat kejengkelan disana. Beberapa gadis pun berpikir dua kali ketika ingin mendekati pemuda Dutchill itu, bagaimana tidak, wajah itu terlihat menakutkan dengan alis yang mengekrut dan mata menyipit tajam menyiratkan jika ia tak ingin diganggu membuat beberapa siswi memilih menjauhkan diri dari pada menambah kejengkelan pemuda itu nantinya.

"Ed" Suara teriakan terdengar dari belakang namun Edward  tidak berbalik atau berhenti ia bahkan tetap melangkahkan kakinya acuh seperti tidak mendengar apa - apa.

"Edward" Lagi. Dan sekian kali nya tetap dicueki pemuda itu.

"Edward Eddy Dutchill, aku tak tau kalau kini kau tuli" Muncul perempatan urat didahinya. Mood nya sudah berantakan dan kehadiran ketiga pemuda yang bertatus temannya kini malah membuatnya hancur sekalian.

"Berhenti memanggilku, kalian menjengkelkan" Ujarnya.

Eugene memutar mata malas, lengannya merangkul bahu Edward. "Mengapa kau marah - marah dipagi yang cerah ini, Ed?" Tanyanya. Edward meliriknya, menyentak lengan pemuda winston itu dibahunya. "Bukan urusanmu" Ujarnya lagi.

"Apa yang membuatmu marah?" Kini giliran Maxime yang bertanya. Edward bahkan tidak melirik pemuda itu, matanya menyorot tajam William yang sedari tadi terdiam dibelakang mereka, wajah tampan pemuda bersurai perak itu penuh lebam biru yang begitu kontras dengan warna kulitnya. Tentu saja ini adalah hadiah bogeman Edward beberapa hari lalu.

"Ini semua karena kau" Ujarnya jengkel menatap wajah William yang bahkan tidak menampilkan ekspresi apapun.

"Jika bukan kau, aku tidak akan tidur diasrama selama seminggu tanpa diperbolehkan kembali ke mansion untuk melihat adikku. Ini semua karena kau sialan" kesabarannya abis. Tangannya kini meremat kerah kemeja putih yang William kenakan, sorot wajah dingin itu saling beradu.

"Maaf" Hanya kata itu yang bisa William katakan, memang ini salahnya. Mau bagaimana pun ia mengelak kenyataannya sudah terpampang didepan matanya. Alvin tiba - tiba pingsan sehabis menenangkannya walau ini juga bukan sepenuhnya salah nya. Namun ia juga ambil andil dalam membuat bungsu Duke Dutchill itu kerepotan. Yang mana membuat Alaric marah, tak hanya William saja namun ketiga pemuda lainnya pun dimarahi karena tidak becus menjaga si bungsu.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang