ARC 4 (DT 14)

2.8K 444 65
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST

Matahari menghilang dibawah garis cakrawala. Fajar dilangit adalah tanda jika malam hampir tiba. Warna merah yang dihasilkan dari kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi tak membuat suasana menjadi tenang malah sebaliknya. Kabut bertambah tebal.

Dengan bermodalkan ranting - ranting kecil yang ia temukan sepanjang jalan, ia beruntung dapat membuat api unggun diantara dahan raksasa yang menjorok kedalam seperti Gua kecil

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dengan bermodalkan ranting - ranting kecil yang ia temukan sepanjang jalan, ia beruntung dapat membuat api unggun diantara dahan raksasa yang menjorok kedalam seperti Gua kecil. Helaan napas panjang terdengar samar, tubuhnya merapat, hawa hangat didepannya seakan tak cukup, bocah itu memeluk tubuhnya erat - erat guna mengusir rasa dingin yang kini membelai kulitnya lembut.

Trang....Trang..

Suara pedang bergesekan menimbulkan suara nyaring dihutan yang diliputi oleh keheningan. Alvin terkesiap, orang bodoh mana yang menimbulkan suara sekeras ini dimalam hari? Ia mengumpat kesal. Menutup telinganya rapat - rapat.

Namun....

Trang....Trang...

Suara itu bertambah nyaring.

Alvin menatap sekitar dengan waspada, Mutan akan mendengarnya cepat atau lambat, jujur saja ia bukan orang yang suka ikut campur tapi jika mutan itu kesini, ia juga akan mati. Orang idiot itu sepertinya tidak bisa membiarkannya tidur dengan damai! Ia bangkit mematikan apinya terlebih dahulu dan berjalan menuju kearah suara.

Langkahnya begitu pelan, takut membuat suara yang mengakibatkan mutan datang. Suasana malam membuat jarak pandangnya terbatas, tapi langkah kaki nya tak goyah. Dengan bermodalkan insting, Alvin melihat cahaya lampu yang benderang dari arah timur.

"HAHAHAHAH, menakjubkan!"

'Seorang anak kecil' Gumamnya dalam hati,

Alvin bersembunyi dibalik dahan raksasa, menyembunyikan tubuh kecilnya disana. Kepalanya mengintip. Itu adalah pertarungan antara seorang Hunter dan Mutan. Mutan itu tiga kali lipat lebih besar dengan kuku panjang seperti pisau. Tapi pedang itu begitu lihai mengiris mutan dengan gerakan yang indah. Namun dahinya mengernyit heran, orang itu jelas bisa langsung membunuh mutan itu, tapi sepertinya sengaja tidak melakukannya. Ditambah orang itu sangat aneh, mengiris daging mutan dengan senyum dan tawa diwajahnya.

Tunggu......

Tertawa?

"Ahahahah, kenapa kau tidak menyerang ku lagi. Lihat kau melihatnya kan, ini darah! Bukankah kalian suka darah. Akan kuberikan setelah kalian menghiburku~~" jelas pemuda itu sengaja mengiris lengannya hingga menimbulkan luka gores yang dalam. Darah mengucur jatuh ketanah. Membuat mutan yang tadinya diam bergerak kembali dan mengejar.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang