DT 42

13.5K 1.3K 3
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST







Alvin dan Helian duduk berhadapan, setelah Maribell pergi dengan berantakan, disusul Lily dengan kondisi yang lebih memprihatinkan dengan rambut acak - acakan, seragam yang sudah lecek karena pertumpahan darah sesaat. Hahahahah ingin sekali Alvin tertawa terbahak - bahak saat ini, beruntungnya ini adalah perpustakaan, jadi ia menahan tawanya dengan berat hati.

Matanya melirik kearah Helian  yang kembali tidur dengan menungkupkan wajahnya dengan lengan yang silangkan sedangkan ia kembali membaca buku di depannya dengan khitmat.

"Helian" Alvin meliriknya, apa pemuda itu kembali tertidur? Tanyanya dalam hati. Alvin menghela napas panjang, ia ingin bertanya tentang Maxime pada pemuda itu, bertanya apa yang membuat Helian membenci orang yang berstatus sebagai kakak nya itu. Tapi sepertinya ia harus menundanya.

"Hem" Namun dugaannya salah, pemuda itu masih bisa menanggapinya.

"Kenapa kau dan Kak Max terlihat tidak akur?" Pertanyaan itu membuat Helian yang masih menangkupkan wajahnya kini mengangkat kepalanya, menatap ke arah Alvin. "Kenapa? Apa dia mengadu padamu?" Senyumnya.

"Tidak, Kak Maxime tidak mengatakan apapun"

"Kalau begitu kenapa kau bertanya?"

"Hanya--hanya menebak" Helian terkekeh kecil dari duduknya, pemuda itu mendekati kearah Alvin. "Kau ingin tahu?" Bisiknya pelan. Alvin mengangguk kecil.

"Itu karena--------"

"--dia adalah seorang pembunuh" Jawabnya.

Alvin berpura - pura terkejut, mulutnya berbentuk huruf O yang begitu besar "Tutup mulutmu, binatang akan masuk kedalam sana" Kekehnya. Alvin bungkam, kembali meluruskan ekspresi nya. "Kenapa Kak max menjadi pembunuh?" Ujarnya dengan ekspresi gugup.

"Apakah kau pernah melihatnya?" Lanjutnya.

Helian mengangkat bahu acuh, "Tidak"

"Apa kau pernah melihat kak Max membunuh orang itu?"

"Tidak"

"Lalu kenapa---

"Tidak, aku memang tahu"

Muncul perempatan didahi Alvin, sebisa mungkin ia berpura - pura menjadi orang yang tidak tahu apa - apa. Tapi respon Helian yang acuh tak acuh begitu ambigu membuatnya kesal bukan main.

"Kenapa kau menyimpulkan demikian?" Tanyanya.

"Dia memang pembunuh, fakta itu sudah cukup bagiku" Ujarnya singkat.

"Tapi..... " Alvin kehabisan kata - kata. Apa pemuda ini anak berusia 5 tahun? Otaknya begitu kecil sehingga tidak bisa menerima nasihat apapun dari orang lain. Bagaimana mungkin ia langsung menyimpulkan hal seperti itu.

"Hentikan ekspresi kesalmu, kau seperti ingin nenelanku hidup - hidup"

"Aku tidak"

"Kenapa Kau begitu membelanya?"

"Itu karena kak Max bukan orang yang seperti itu" Alvin  berujar dengan mantap.

Didalam plot, setelah serangkaian kisah Lily dan Maxime yang penuh liku - liku, Maxime yang mengenal kembali bagaimana harus berekpresi menjadi orang yang berbeda. Didalam Novel karakter Helian bahkan tidak disebutkan sama sekali.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang