ARC 4 (DT 22)

3.1K 598 102
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST

Leena tak bisa mengerti mengapa situasi menjadi seperti ini. Ekspresi nya kebingungan. Melihat keadaan Edward yang pingsan dan wajah khawatir tiga pemuda lainnya membuatnya diam seribu bahasa. Apalagi keadaan bocah yang tertidur pulas tepat disamping Edward semakin membuat gadis cantik itu mengerutkan dahinya.

"Ada apa? Mengapa kau berhenti?" Terkejut, Leena tersadar dari lamunan. Segera mengangguk kikuk dan kembali mengobati Edward dan bocah itu dalam diam. Entah apa yang terjadi, gadis itu diam - diam menatap tubuh Edward yang setengah rusak. Tubuh pemuda itu dipenuhi oleh darah. Walau keadaannya tidak separah sebelumnya tapi cukup membuatnya ketakutan. Dan disisi lain, si kecil yang mengempeng dari ibu jarinya itu tertidur begitu pulas tanpa ada cedera apapun.

Matanya melirik ketiga pemuda yang berdiri tepat disampingnya. Jelas ada yang berubah disini. Tapi Leena tak tahu itu. Yang pasti bocah inilah penyebabnya.

Tangannya gemetar, ini sudah diluar batas kekuatannya. Ia bisa mengobati luka bagian luar. Namun, kerusakan tubuh bagian dalam Edward masih setengah selesai. "Aku...aku sudah mencapai batas" gumamnya lemah.  Gadis itu jatuh terduduk ditanah dengan wajah kelelahan. 5 jam tanpa istirahat cukup membuatnya kehabisan energi.

Enord adalah yang pertama memecah keheningan "Apakah kekuatan Edward yang terdistorsi benar - benar sudah baik - baik saja?" Tanyanya. Suaranya tampak lebih tenang, Namun karena suasana yang hening membuat suara pemuda itu terdengar sedikit bergetar.

Leena mengangguk kecil, tampak ragu "Sepertinya begitu. Energinya tidak lagi berkecambuk seperti sebelumnya"

"Berapa kira - kira tingkat energi kekuatan Edward saat ini?" Licius ikut bertanya.

"Mmm....mungkin sekitar 50%" Jawab Leena seadanya.

Aneh, George yang diam Sedari tadi juga merenung. Ketika ia masuk kedalam Gua dan mendengar suara ledakan. Ia sudah siap secara mental untuk membunuh Edward. Walau kekuatannya tidak sebanding dengan pemuda itu. George dan Enord sudah pada titik kesimpulan akhir. Edward harus dieleminasi.

Tak ada Hunter tingkat S yang bisa survive dalam keadaan berserk. Mereka akan membantai apapun secara membabi buta, bahkan lebih berbahaya dari pada mutan diwilayah Elementhe. Dan lihatlah situasi sekarang.

"Bagaimana dengannya?"

"Hah?"

"Aku bertanya tentang bocah itu" lanjut George pada Leena yang kebingungan.

"Ah? Oh...." Leena tampak ragu. Tak  expect pemuda itu akan menanyakan bocah yang tidak begitu penting ini. Walau wajah nya terlihat enggan, Leena tetap berkata "Dia baik - baik saja. Mungkin hanya kelelahan. Beberapa jam akan lebih baik," ujarnya seadanya.

"Tapi kapan Edward akan bangun? Situasi seperti ini tak pernah ada sebelumnya" Enord bergurau kecil.

"Bagaimana menurutmu George? Apa yang terjadi pada Edward?" Tanyanya. George yang ditanya melirik singkat, pandangannya tertuju pada tubuh bocah yang mengeluarkan suara mendengkur yang halus. Seperti seekor kucing. Entah apa yang ada dipikirannya. Tapi sejujurnya George menduga bahwa bocah itu lah penyebabnya.

"Aku tidak tahu. Bangunkan saja Edward dan tanyakan langsung pada---"

"Tak perlu. Aku sudah bangun"
Pemuda yang berbaring itu perlahan membuka kedua matanya. Warna netra nya kembali normal namun memiliki warna kemerahan disudut nya. Ekspresi nya bercampur aduk. Namun kata - katanya masih tajam seperti biasanya. "Pembicaraan kalian membuatku tambah sakit kepala" dengan lirikan dingin.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang