ARC 4 (DT 2)

6.5K 841 36
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST

-

Hic... Hic

"Berhenti menangis"

"Aku hanya ingin melihat kunang - kunang"

"Tidak. Sebentar lagi Ayah akan kembali dari paman Kekaisaran. Ayah akan marah jika tau kau tak ada dikamarmu"

Si kecil memegangi ujung baju kakak nya dengan erat, enggan melepaskannya. Iris besar itu mengeluarkan air mata, jatuh dan membuat pipi nya basah. wajahnya sedih, menggambarkan keluhan didepan kakak yang berbeda 5 tahun ini.

Hah.....

"Kakak, aku sangat ingin melihatnya" Bisiknya sungguh - sungguh.

Pemuda itu sedikit luluh, wajahnya melembut. Dengan berjongkok menyamai tinggi adiknya. Tangannya mengenggam kedua tangan yang lebih kecil itu lembut.

"Jika Alvin sudah sembuh, kakak akan mengajakmu untuk menangkap kunang - kunang besok" Bocah itu mendongak, memandang kakak nya untuk menemui raut kobohongannya. Tapi wajah itu tulus memandangnya.

"Hic...ba--baiklah"

Esoknya, tubuh si kecil tidak membaik malah sebaliknya. Itu semakin parah. Menggigil, dengan raut pucat. Bibirnya bergumam tak jelas. Kadang merengek menyedihkan. Tubuh adiknya memang selalu lemah sejak lahir. Tubuhnya lebih kecil dari pada anggota keluarganya yang lain. Bahkan sedikit udara dingin, dapat membuat si kecil pilek. Oleh karena itu keluarganya selalu keras kepadanya.

Dua hari, tiga hari, empat hari berlalu bagaikan hitungan detik. Tepat ketika matahari akan meninggalkan cakrawala dengan warna keemasannya, Si kecil duduk termenung disudut jendela, memandang kearah lapangan yang menampakkan anak - anak lain yang tengah berlari dan bercanda. Ada raut kerinduan dalam dirinya.

"Tuan kecil, tuan besar mengajak anda untuk makan bersama" Suara ketukan terdengar disambut oleh suara lembut wanita paru baya yang sudah merawatnya hingga saat ini.

Ia keluar, berjalan dengan pelan. Si kecil baru berumur 7 tahun saat itu. Ketika sampai dimeja makan, ada satu kursi yang kosong yang membuatnya mengernyit bingung.

"Apa yang kau lakukan disana? Kau harus duduk sayang" Sang ibu berbicara dengan lembut, menepuk kursi disampingnya.

"Dimana kak Enord?" Tanyanya.

Sang ibu mendesah, dan berkata dengan keluhan "Anak itu keluar malam - malam membawa sebuah toples besar dan jatuh dari pegunungan belakang mansion dengan parah" Si kecil terkejut, dan berlari kearah kamar kakak ketiganya tanpa mendengarkan suara ibunya yang memanggil namanya.

Irisnya memandang kakaknya yang tertidur dengan kasa disekujur tubuhnya, hanya mengintip tak berani mendekat.

"Tuan muda sangat malang, bagaimana ia bisa melukai kepalanya begitu parah?" Salah satu pelayan berucap dengan nada sedih.

"Itu benar, aku sangat terkejut melihat darah menggenang ditanah begitu banyak"

"Tapi kudengar, tuan muda sangat ingin menangkap kunang - kunang dihalaman belakang"

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang