DT 34

15.9K 1.6K 50
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST


Tang tang tang

Padang kayu itu saling beradu, menebas satu sama lain. Pekikan keluar dari pria paru baya yang kini sudah terkapar tak perdaya, pedang kayu nya patah menjadi dua. Eugene, menghela napas panjang, memandang prajurit yang terkapar dengan senyuman puas, kali ini ia menang lagi. Keringat sebiji jagung keluar dari dahi lebarnya yang dilapisi bandana.

Hari ini sang ayah menyuruhnya untuk belajar mengurusi bendungan yang baru saja ingin dibangun, membuatnya mau tak mau harus meminta cuti dari academy untuk sementara waktu.

"Tuan, Duke meminta Anda datang ke ruang kerjanya" Eugene melirik Butler yang menunduk gemetar dihadapannya. Berdecih sebelum membanting pedang kayu kesembarang arah.

"Apa lagi yang diinginkan pria tua itu? Apa anak kesayangannya kembali mengadu padanya?" Ujarnya dengan senyuman miring. Si Butler tetap diam. Tidak berani berkata apapun.

"Cih, kali apa yang ingin dipukul? Wajahku? Kepalaku? Punggung? Hey bagian mana menurutmu?" Tanyanya. Si Butler tetap menggelengkan kepalanya dengan gerakan terbata.

"Tsk tsk , kau benar - benar membosankan. Pergi dari hadapanku" Ujarnya dingin.

Si Butler segera pergi dengan terburu - buru meninggalkan Eugene yang menatap dingin kepergiannya itu. Ia mengambil jas tebalnya. Kali ini akan ada drama lagi. Adik kesayangannya dan sang ibu tiri akan kembali bersandiwara, kemudian sang Ayah akan jadi algojonya. Ahh... Tidak bagaimana pria tua itu akan memukulnya jika tubuh nya saja lebih lemah dari pada dirinya. Ah ia lupa bukankah seperti biasa pria tua itu akan menyuruh tangan kanannya
untuk memukulnya?

Faktanya, Duke Winston. Felix Teri Winston tidak pernah memukulnya tanpa sebab. Tapi karena akhir - akhir ini, Alicia Ryott Winston, adik kesayangannya semakin banyak membuat pernyataan palsu yang membuat sang ayah semakin jengkel kepadanya. Bahkan jika suatu hari nanti pria yang ia sebut ayah itu mengusirnya, Eugene siap kapan saja keluar dari lingkaran neraka ini.

Langkahnya memelan, iris Ruby nya menatap beberapa maid dan Butler yang sedari tadi berkeliaran dengan sibuk. 'Tamu?' Tanyanya dalam hati. Ia membuka pintu besar itu dengan gerakan pelan, seperti dugaannya tatapan marah sang ayah, senyum ibu tirinya dan tangisan adik nya yang selalu menyambutnya setiap ia berkunjung kesini. Namun, gerakkan nya terhenti. Alvin??

Apakah Duke Dutchill berkunjung ke kediamannya? Ahh melihat wajah putih bocah itu, membuat wajah jangkelnya hilang seketika "Alvin---

"Kali ini apa yang kau lakukan Eugene?" Potong Felix. Tatapannya kini beralih kearah sang ayah, melirik Alicia yang ditenangkan oleh sang ibu tiri. Kekehan terdengar dari sela - sela bibirnya.

"Bagaimana menurut ayah?" Tanyanya balik dengan tatapan menantang.

"Sudah ku bilang jangan memukul adikmu, kenapa kau tidak pernah mendengarkanku?!" Kini Felix berujar dengan sedikit nada kesal. Tangannya memijit pangkal hidungnya yang sudah lelah dengan kelakukan putranya.

"Oh? Aku memukulnya? Mnnn alasan yang bagus, tapi lain kali. Berilah alasan yang lebih menantang Alicia. Bukankah jika kau beralasan aku ingin membunuhmu akan lebih bagus?" Tatapannya melirik Alicia yang terdiam dengan masih mengeluarkan isakannya.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang