DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON
🚛
HAPPY READING💛
.
.
.
.
.
ALL PIC BY PINTEREST
Tiga Kereta kuda berjejer perlahan memasuki kawasan mansion Duke Dutchill, gerbang emas besar itu dibuka oleh prajurit yang berjaga didepan gerbang mansion, mempersilahkan sang Tuan untuk masuk.
"Tuan, Kita sudah sampai" Ujar sang kusir dengan membukakan pintu kereta kuda. Keempat pemuda itu kini turun dari kereta berlambang Duke Dutchill kearah pintu besar yang menjulang tinggi.
"Yoo, sama seperti biasa~~" Eugene bersenandung ria menatap mansion didepannya yang suram. Edward tidak menanggapi pemuda itu, ia melangkahkan kakinya kedalam, yang disambut oleh beberapa maid yang berbaris rapi. Maxime memasukkan tangannya kedalam saku celananya, menatap deretan lukisan peperangan yang terpajang apik di sepanjang lorong.
"Ahahahhahahah"
Keempatnya saling bertatap - tatapan. "Apa aku salah dengar?" Max sedikit mengeryit bingung.
"Apa karena mansion ini terlalu suram hingga hantu pun menertawakannya?" Eugene berkekeh pelan. Menatap ekspresi suram sang sahabat yang mendelik kearahnya.
Bruk
Langkah keempatnya terhenti, seorang bocah tiba - tiba berlari didepan mereka dan terjatuh tersungkur.
Keempatnya terdiam, menatap satu sama lain. Terdengar ringisan tertahan dari bocah itu, perlahan kepala itu mendongak, menampilkan wajah imut yang membrengut kesal.
"Hah?"
"Sudah ayah katakan jangan berlari, Alvin. Lihat kau terjatuh" Suara bariton mengalihkan perhatian keempatnya.
"Ayah?"
"Paman Alaric?"
Alaric menatap keempat pemuda itu, wajah khawatirnya dengan cepat berubah. "Ada keperluan apa hingga Yang Mulia Mahkota mengunjungi mansion kami?" Tanyanya dengan sopan. Maxime berdehem, senyum senantiasa terpasang diwajah tampannya. "Paman, bersikaplah seperti biasa. Aku sedang tidak melakukan kunjungan resmi"
Alaric yang mendengar itu segera mengubah wajahnya, tak ada wajah tenang seperti biasa malah matanya memincing tajam, ingatkan Maxime untuk tidak berkunjung lagi kesini jika bukan karena urusan resmi "Lalu mengapa kalian kemari? Oh putra dari Winston dan Oxid juga kemari?"
"Hanya sekedar berkunjung, sudah lama aku tidak melihat paman dan juga emn----" Matanya melirik Alvin yang juga terkejut dengan tatapannya, bocah itu segera berlindung dibalik ayahnya, menutupi tubuh kecilnya dibalik tubuh sang ayah dengan sesekali melirik kearah mereka.
"Kau Alvin?" William memotong pembicaraan Maxime, jika ini adalah kunjungan resmi sudah dipastikan Will akan dipotong lidahnya. Berani sekali pemuda jelmaan patung itu memotong ucapan sang Putra Mahkota.
Alvin yang berada dibalik tubuh Alaric tersentak, kemudian mengangguk. Tubuhnya memang tertutupi tubuh Alaric tapi kepalanya masih menyembul dari arah samping kaki sang ayah, mengerjap beberapa kali.
"Kau mengenal kami?" Maxime berjongkok menyamai tingginya dengan Alvin walau Alvin sendiri masih menyembunyikan diri.
Alvin menatap keempat pemuda itu berusaha mengenal keempatnya, ada tatapan bingung dan tatapannya terfokus pada satu titik, jari kecil itu menunjuk kearah Edward "Kakak" Cicitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
( TRANSMIGRATION) Dimensional Transmission
Fantasy[BrotherShip Story] Alvin, pemuda tanggung itu kini terseret kedalam teknologi buatannya sendiri, "Dimensional Transmission" Disuruh memainkan alur cerita berbeda - beda dan mengubahnya demi menyelamatkan hidupnya. "Gail? Apa yang terjadi?!!" "Sep...
