88

134 6 0
                                        

Dua mobil hitam melaju beriringan meninggalkan basement hotel, menyatu dengan arus lalu lintas kota asing yang padat di pagi hari. Klakson berbunyi di sana-sini, kendaraan umum penuh sesak dengan penumpang, pejalan kaki memadati trotoar dengan langkah tergesa--semua menjalani rutinitas mereka sendiri, tak peduli pada dua mobil yang membawa misi pencarian di dalamnya.

Di persimpangan lampu merah, kedua mobil berhenti berdampingan. Tak lama kemudian, lampu lalu lintas berganti hijau, dan seperti dua takdir yang terpisah, mereka berbelok ke arah berlawanan.

Mobil pertama yang ditumpangi Jeno dan Taeyong melaju ke timur, menyusuri jalanan yang semakin padat. Mobil kedua bersama Tuan Na dan Yui berbelok ke barat, menuju kantor polisi pusat.

Di dalam mobil kedua, keheningan terasa begitu berat hingga hampir bisa dipotong pisau.

Yui duduk di kursi penumpang depan, kedua tangannya menggenggam erat tas kecil di pangkuannya. Matanya menatap lurus ke depan, tapi sebenarnya ia tak melihat apa-apa selain bayangan anaknya. Jemarinya yang menggenggam tas itu bergetar halus, tak mampu ia kendalikan meski sudah berusaha menahannya.

Di balik riasan tipisnya, tergurat jelas garis kecemasan yang dalam. Pikirannya tak bisa berhenti membayangkan--di mana Yuta sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia makan? Apa dia ketakutan sendirian di sana? Apa Haechan dan Jaemin--anak tirinya sendiri--berani menyakiti anak kandungnya?

Air mata sudah beberapa kali ingin tumpah, tapi ia tahan. Ia harus kuat. Untuk Yuta. "Yuta... Ibu akan menemukanmu," bisiknya lirih, hampir tak terdengar.

Tuan Na duduk di belakang kemudi, mendengar bisikan itu. Kedua tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, tapi matanya--matanya tak berani sekalipun melirik ke arah istrinya.

Rasa bersalah itu mencekiknya hingga membuatnya sulit bernapas.

Dua orang yang sekarang menjadi buronan adalah anak-anaknya sendiri. Darah dagingnya. Ia yang membesarkan mereka, mendidik mereka, memberi mereka segala yang mereka minta--tapi ia tak pernah menyangka mereka akan tumbuh menjadi monster yang berani menculik saudara tiri mereka sendiri.

Dan Yui, istrinya yang lembut dan penuh cinta, harus menanggung akibat dari ulah anak-anaknya.

Tuan Na tak berani menenangkan Yui. Ia merasa tak punya hak. Kata-kata apa yang bisa keluar dari mulutnya? "Tenanglah, sayang, anak-anakku yang brengsek itu pasti tidak akan menyakiti anakmu"? Atau "Maafkan aku karena darah dagingku sendiri yang melakukan ini semua"?

Tidak ada kata-kata yang cukup. Tidak ada maaf yang cukup.

Satu-satunya yang bisa Tuan Na lakukan adalah meremas setir lebih kuat, menekan pedal gas sedikit lebih dalam, dan berharap--berharap dengan sangat--bahwa kantor polisi bisa membantu, bahwa pencarian ini segera membuahkan hasil, bahwa Yuta akan ditemukan dalam keadaan selamat.

Mobil melaju meninggalkan gedung-gedung tinggi, menuju kantor polisi yang mulai terlihat di kejauhan.

Di dalam mobil pertama, suasana terasa berbeda namun sama beratnya.

Hanya ada suara dengungan mesin dan hembusan mesin penghangat yang lembut. Jalanan di luar mulai padat, trotoar dipenuhi orang-orang dengan berbagai tujuan--pekerja kantoran, wisatawan dengan koper, ibu-ibu yang mendorong kereta bayi.

Taeyong duduk di kursi pengemudi dengan fokus penuh di jalanan yang asing baginya, sementara Jeno diam di sampingnya.

Jeno hampir menempelkan wajahnya ke kaca jendela.

Matanya awas, tajam, bergerak cepat mengamati setiap orang yang lewat di trotoar. Seorang pria dengan rambut hitam sebahu lewat--jantung Jeno berdetak cepat, tapi saat pria itu menoleh, wajahnya asing.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Step Brother Na YutaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang