Part 37

39 3 0
                                        

Liburan semester telah usai, saatnya kembali ke rutinitas belajar mengajar di sekolah. Selama 2 minggu ini komunikasi Aulia dan Rara benar-benar terputus. Rara beberapa kali mencoba berkomunikasi tapi tidak ada respon sama sekali dari Aulia. Sedangkan Nabila lebih memilih berlibur di rumah pamannya di Pangandaran.

Liburan kamu kemana aja Aul? "tanya Nabila

Kepo banget sih "jawab Aulia ketus

Aku cuma nanya loh, gak mau jawab juga gapapa. Katanya kamu diajakin ke Dufan sama Rara tapi gak ada kabar ya? "tanya Nabila lagi

Rara? Siapa ya? Aku gak punya temen yang namanya Rara "sahut Aulia dengan santainya

Heh Aul istigfar, Rara itu sahabat kamu dari kecil "Nabila dibuat kesal dengan jawaban Aulia

Sahabat kok gak bisa ngertiin sahabatnya, lucu "Aulia terkekeh sinis

Gak ngertiin gimana, masa cuma karen Gunawan kamu jadi kayak gini sih Aul, gak dewasa banget "cibir Nabila

Cuma karena Gunawan kamu bilang? Denger ya Nabila, Rara itu dari dulu selalu jadi pesaing aku dan gak pernah mau mengalah, dan soal Gunawan, ini urusan hati gak bisa diatur-atur, lagian apa salahnya sih Rara kasih kesempatan sedikit aja ke aku buat deket sama Gunawan "Aulia sedikit meninggikan suaranya karena ia juga merasa kesal dengan Nabila

Nabila terdiam sejenak. Ia menatap Aulia yang kini terlihat seperti orang asing baginya. Nada bicara, ekspresi, semuanya berubah sejak masalah Gunawan muncul.

Aul... kamu sadar gak sih, kamu sekarang beda banget?" suara Nabila melembut, berusaha menahan emosi.

Aulia justru memalingkan wajah, menyandarkan punggungnya pada kursi, berusaha terlihat tidak peduli. "Beda gimana? Aku cuma belajar buat mikirin diri sendiri."

Mikirin diri sendiri bukan berarti nyakitin orang yang sayang sama kamu," balas Nabila cepat.

Aulia menghela napas panjang. "Udahlah, Nab. Aku capek. Kalau kamu mau belain Rara terus ya sana temenin dia. Aku nggak butuh drama."

"Kamu pikir ini drama?" Nabila berdiri, sorot matanya tajam. "Aul, Rara itu selama dua minggu kamu menghilang, dia setiap hari ngomongin kamu. Dia takut kamu sakit, dia takut kamu marah, dan sekarang kamu bilang kamu nggak punya temen yang namanya Rara?"

Aulia menggigit bibirnya, tapi tetap menjaga ekspresi dingin. "Itu urusan dia. Aku nggak minta dia khawatir."

Nabila menghela napas berat, frustasi. "Kamu tahu nggak, Aul... waktu kamu nggak bales chat dia, dia sampai nyamper ke rumahmu. Tapi kamu lagi pergi sama mamamu. Kamu bahkan nggak tahu, kan?"

Aulia tersentak kecil. Ia tidak menjawab, tetapi untuk pertama kalinya ekspresi kerasnya sedikit goyah.

"Gunawan itu orang baru, Aul," lanjut Nabila lirih.
"Tapi Rara? Dia itu bagian dari hidup kamu."

Suasana menjadi hening. Aulia menunduk, jemarinya meremas-remas ujung rok seragamnya, pertanda hatinya mulai goyah. Namun, egonya masih terlalu tinggi untuk mengakuinya.

"Udahlah, Nab," bisik Aulia. "Biar waktu yang beresin semuanya."

Nabila menggeleng pelan. Bel tanda masuk berbunyi, memecah suasana tegang. Nabila melangkah pergi lebih dulu, meninggalkan Aulia yang masih duduk.

Hari pertama masuk sekolah terasa sangat canggung, tatapan beberapa teman tampak berbeda. Rara dan Gunawan masuk ke kelas dengan wajahnya cerah, seolah ia mencoba mengawali hari dengan harapan baru. Namun, langkah mereka melambat ketika ia mendengar bisik-bisik di dekat pintu. 

"Katanya Rara itu posesif..."
"Dia suka ngecek HP Gunawan setiap hari."
"Gunawan gak boleh deket sama temen-temen ceweknya"

Gunawan mengeratkan jemarinya di jemari Rara yang sedang ia genggam, Gunawan sudah tahu ini pasti ulah Aulia. Gunawan mengantarkan Rara duduk di kursinya, disana sudah ada Putri.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang