Gunawan tahu ia kehilangan Rara jauh sebelum benar-benar kehilangannya.
Jakarta tidak pernah benar-benar memberinya waktu untuk menoleh. Pekerjaan menumpuk, target tak pernah cukup, dan hidup yang menuntutnya selalu kuat. Ia terbiasa menunda hal-hal penting dengan kalimat, nanti kalau sudah lebih tenang. Ia tidak sadar, beberapa hal tidak menunggu.
Suatu malam, setelah rapat panjang yang berakhir terlalu larut, Gunawan duduk sendiri di mobilnya. AC menyala, tapi dadanya sesak. Ia membuka ponsel tanpa tujuan dan berhenti di satu nama yang sudah lama tak ia hubungi.
Rara.
Chat terakhir mereka singkat. Tidak bertengkar. Tidak juga berjanji. Justru itu yang paling menyakitkan. Tidak ada pintu yang benar-benar ditutup, tapi juga tidak ada yang dijaga. Ia pernah berpikir Rara akan tetap di sana. Bukan karena Rara lemah, tapi karena ia terlalu setia. Dan kini Gunawan menyadari betapa berbahayanya mengandalkan kesabaran seseorang.
Ia mendengar kabar Rara bekerja di rumah sakit Jakarta dari Meli. Apoteker. Hijab. Tenang. Kata-kata itu membuat dadanya bergetar aneh, bangga dan kehilangan datang bersamaan.
Gunawan sempat menulis pesan panjang. Berkali-kali. Tentang rindu. Tentang maaf yang tertunda. Tentang hal-hal yang dulu ia simpan karena merasa belum pantas. Tapi tak satu pun terkirim. Ia takut pesan itu hanya akan membuka luka yang sudah hampir sembuh.
"Kalau aku datang sekarang," gumamnya, "itu karena cinta... atau karena aku terlambat?"
Gunawan mulai melihat dirinya sendiri dengan lebih jujur. Ia sadar, selama ini ia mencintai Rara dengan niat, bukan kehadiran. Ia selalu ingin jadi versi terbaik dulu tanpa sadar Rara hanya butuh versi yang ada.
Ada hari-hari ia ingin menemuinya. Sekadar duduk. Tidak untuk kembali, hanya untuk meminta maaf dengan utuh. Tapi setiap kali niat itu muncul, ia teringat satu hal yang akhirnya ia pahami, mencintai juga berarti tidak mengganggu ketenangan orang yang kita sayangi. Gunawan memilih diam. Bukan karena tak peduli, tapi karena akhirnya ia peduli dengan benar.
Ia mulai merapikan hidupnya sendiri. Menolak beberapa pekerjaan yang terlalu memakan waktu. Mengunjungi orang tuanya lebih sering. Ia bahkan tersenyum kecil ketika Papinya bertanya, "Kapan bawa teman?"
"Belum," jawabnya jujur. "Masih belajar beres sama diri sendiri."
Kadang, di antara kesibukan, bayangan Rara datang tanpa izin. Tapi kini tidak lagi disertai harapan. Hanya doa singkat yang tak pernah ia ucapkan keras-keras, "Semoga kamu bahagia, bahkan kalau itu bukan denganku."
Gunawan akhirnya mengerti, tidak semua cinta harus diperjuangkan kembali. Sebagian cukup dipahami dan dilepaskan. Dan di situlah ia berdiri sekarang, bukan sebagai lelaki yang kalah, tapi sebagai lelaki yang akhirnya belajar tepat waktu, meski sudah terlambat untuk satu nama.
Gunawan tidak merencanakannya.
Siang itu ia hanya sedang menunggu sopir di lobi sebuah rumah sakit di Jakarta. Ada urusan kerja singkat dengan klien yang ternyata dirujuk ke sana. Jasnya sudah ia longgarkan, dasi sedikit miring. Kepalanya penuh, tubuhnya lelah. Lalu, di antara lalu-lalang jas putih dan seragam perawat, ia melihatnya.
Awalnya ia ragu. Terlalu singkat. Terlalu tenang. Tapi langkah itu, cara seseorang berhenti sebentar sebelum belok, kebiasaan kecil yang tak pernah berubah, itu milik Rara.
Gunawan berdiri lebih tegak tanpa sadar.
Hijabnya sederhana, warnanya lembut. Name tag tergantung di dadanya. Ia sedang berbicara dengan seorang perawat, ekspresinya fokus tapi ramah. Tidak terburu-buru. Tidak juga terlihat lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
