Part 97

16 1 0
                                        

Hari berganti, Rara dan Gunawan resmi masuk ke fase yang terasa aneh sekaligus sakral, pingitan. Rumah Rara jadi lebih ramai dari biasanya. Ada ibu, tante, sepupu, suara dapur yang tidak berhenti, dan sesekali tawa yang mencoba mencairkan suasana.

Tapi di tengah semua itu Rara justru merasa lebih sunyi. Karena satu hal yang biasanya ada, Gunawan tiba-tiba tidak boleh ditemui. Rara duduk di kamar, rambutnya setengah disanggul karena baru selesai perawatan.

Siang itu lebih tenang dari biasanya. Tidak terlalu ramai. Hanya suara kipas angin, sesekali bunyi piring dari dapur, dan langkah kaki yang lalu-lalang. Rara duduk di lantai kamarnya, bersandar di sisi tempat tidur. Rambutnya tergerai, wajahnya polos tanpa banyak riasan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia terlihat benar-benar seperti dirinya yang dulu.

Pintu diketuk pelan.

"Iya, masuk..."

Pintu terbuka.

Rara sedikit terkejut. "...Putri?"

Putri tersenyum dari ambang pintu. "Iya. Boleh masuk?"

Rara langsung bangkit. "Ya ampun, sini..." Mereka saling peluk. Tidak lama, tapi hangat.

Putri masuk sambil membawa minuman. "Ini, minum dulu. Dari tadi kamu bengong."

Rara menerima gelas itu. "Aneh..."

Putri duduk di sebelahnya. "Apanya?"

Rara menatap jendela. "Biasanya tiap hari ada. Sekarang... malah gak boleh ketemu."

Putri tersenyum kecil. "Makanya dibilang pingitan. Biar pas ketemu lagi... rasanya beda."

Rara tertawa pelan. "Padahal cuma beberapa hari."

Putri mengangkat bahu. "Beberapa hari itu cukup buat bikin kangen kok."

"Kamu dulu juga gitu Put?" tanya Rara

Putri mengangguk, "Sama Ra." Putri duduk di karpet, memandang Rara cukup lama. "Gila ya..."

Rara mengernyit. "Apanya?"

Putri tersenyum kecil. "Kamu... beneran mau nikah."

Rara tertawa pelan. "Iya ya..."

Putri menatap Rara lagi. "Terus... kapan kamu mulai yakin sama Gunawan?"

Rara terdiam sejenak. "...Bukan satu momen sih."

Putri menunggu.

Rara menatap ke jendela. "Lebih ke... dia gak pernah maksa aku buat cepat yakin."

Putri mengangguk pelan.

"Dia sabar," lanjut Rara. "Dan dia tetap ada... bahkan waktu aku lagi ragu."

Putri tersenyum kecil. "Itu langka sih." Putri menyandarkan kepala ke tembok. "Dulu aku kira kamu bakal sama yang... lebih 'tenang'."

Rara tertawa kecil. "Gunawan gak tenang?"

Putri ikut tertawa. "Bukan gitu. Maksudku... dia tuh kelihatannya sederhana, tapi ternyata dalem banget."

Rara mengangguk pelan. "Makanya aku betah."

Putri tiba-tiba meraih tangan Rara. "...Ra."

"Iya?"

Putri menatapnya serius. "Aku bangga sama kalian."

Rara sedikit kaget. "Kenapa?"

Putri tersenyum lembut. "Karena kamu berani. Gak semua orang berani ambil langkah sejauh ini... apalagi setelah semua yang kalian lewatin." Mata Rara langsung berkaca-kaca lagi.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang