Part 68

27 4 0
                                        

Setelah wisuda itu, hidup tidak berhenti memberi jarak.

Gunawan mulai sibuk dengan rencana kerja. Rara juga tenggelam dengan persiapan kuliah profesinya. Mereka tidak lagi punya alasan untuk saling menghubungi setiap dua atau tiga hari seperti dulu. Tidak ada jadwal. Tidak ada rutinitas. Yang ada hanya keinginan.

Beberapa kali Gunawan mengetik nama Rara di kolom chat, lalu menghapusnya lagi. Beberapa kali Rara membuka profil Gunawan, memastikan ia baik-baik saja, lalu menutupnya tanpa meninggalkan jejak.

Mereka memang kembali berbicara. Tidak sering. Kadang hanya seminggu sekali. Kadang dua minggu tidak ada kabar sama sekali. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang menuntut.

Saat akhirnya mereka bertemu lagi, beberapa bulan setelah wisuda, tidak ada perasaan meledak. Tidak ada degup yang terlalu keras. Yang ada justru canggung.

Gunawan terlihat lebih kurus. Rara lebih pendiam. Mereka duduk berhadapan, saling menyesap kopi yang sama-sama sudah dingin.

Kok kamu kurusan?" kata Rara pelan.

Gunawan mengangguk. "Iya. Capek, belum nemu ritmenya Ra."

Rara tersenyum tipis. "Sabar. Namanya juga baru di fase ini."

Gunawan tersenyum kecil, lalu menunduk menatap permukaan kopinya. "Kamu juga kelihatan capek," katanya pelan. "Cuma... kamu pinter nyembunyiinnya."

Rara menghela napas, kali ini tidak menyangkal. "Capek yang beda," ujarnya jujur. "Habis wisuda tuh orang-orang mikir semuanya langsung beres. Padahal rasanya malah kosong."

Gunawan mengangguk pelan, seolah paham betul. "Bangun pagi, mikir hari ini harus ngapain, tapi badan rasanya masih di kemarin," katanya sambil tersenyum pahit. "Terus mikir, kok hidup kayak lomba lari ya. Baru nyampe garis, udah disuruh lari lagi."

Rara terkekeh kecil. "Aku kira cuma aku yang ngerasa gitu." Ia mengaduk kopinya yang sudah tak beruap. "Capek ngejar ekspektasi. Kadang pengen diem aja sehari penuh tanpa harus jadi siapa-siapa."

Gunawan meliriknya, tatapannya lembut. "Boleh kok capek," katanya ringan. "Kayaknya kita jarang ngasih izin ke diri sendiri buat lelah."

Rara mengangguk. "Iya... biasanya cuma bilang 'gapapa' biar cepet kelar." Ia tersenyum tipis. "Padahal aslinya pengen ngeluh, tapi gak tau ke siapa."

Gunawan tertawa kecil, kali ini lebih hangat. "Ya sekarang kan lagi ngeluh," katanya. "Sama aku."

Rara menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Makasih," ucapnya singkat.

Gunawan akhirnya berkata hal yang selama ini ia simpan. "Aku masih peduli sama kamu, Ra. Tapi aku gak mau janji kalau aku bisa selalu ada. Aku belum bisa menata hidup yang sekarang."

Rara menatapnya. Tidak terkejut. "Aku tahu dan aku juga sama. Sekarang gak usah mikirn yang lain dulu, kamu fokus aja ya." Rara mengucapkannya tanpa nada menuntut, justru seperti memberi ruang.

Gunawan menelan ludah, dadanya terasa lebih lapang sekaligus perih. "Takutnya kamu nunggu," katanya jujur. "Aku paling gak mau bikin kamu berhenti di tempat yang sama."

Rara menggeleng pelan. "Aku gak nunggu," jawabnya lembut. "Aku jalan juga. Cuma... kalau sesekali kita ketemu di jalan yang sama, ya gapapa."

Gunawan tersenyum, tipis tapi tulus. "Kamu dari dulu selalu bikin semuanya kedengeran sederhana."

"Karena emang harusnya sesederhana itu," balas Rara sambil mengangkat bahu. "Kita capek, Gun. Jangan ditambah beban yang belum tentu sanggup kita pikul sekarang."

Tidak ada janji. Tidak ada status. Tidak ada pegangan tangan. Tidak ada pelukan penutup pertemuan. Mereka berpisah seperti dua orang dewasa yang tahu perasaannya belum selesai, tapi hidup tidak bisa menunggu. Namun sejak hari itu, mereka tidak benar-benar menghilang. Sesekali, Gunawan mengirim kabar. Sesekali, Rara mengirim foto langit sore.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang