"Aku tahu sejak awal jawabannya bukan aku. Bukan dari cara Rara bicara, dia terlalu jujur untuk berbohong dengan kata-kata, tapi dari jeda di antara kalimatnya. Dari cara ia menarik napas sebelum menjawab. Dari matanya yang tidak menghindar, tapi juga tidak sepenuhnya hadir." Pria itu menghela napasnya panjang. Lalu melanjutkan,
"Waktu dia menyebut nama itu, aku tidak marah Mel. Sakit, iya. Tapi masuk akal. Karena cinta yang belum selesai selalu terasa lebih berat daripada cinta yang baru ditawarkan." katanya bijak. Meli tersenyum menanggapi.
"Aku sempat bertanya pada diriku sendiri, kenapa bukan aku yang diperjuangkan? Tapi semakin kupikirkan, pertanyaan itu keliru." ia berhenti sejenak. "Bukan soal siapa yang lebih pantas. Tapi soal siapa yang sudah lebih dulu tinggal di hatinya."
"Dan kamu hebat, walaupun tahu kebenarannya tapi masih mau memperjuangkan." Meli bukan basa-basi, ini tulus.
"Tapi..." ada jeda yang sudah terasa sakit. "Sejak saat kalian pergi menghadiri pertunangan Putri, jaraknya semakin terasa." akhirnya Arga jujur
Meli menoleh, "maksudnya karena Gunawan?"
Arga mengangguk pelan. Tidak ada senyum, tidak ada pembelaan.
"Iya," jawabnya jujur. "Bukan karena aku cemburu berlebihan. Tapi karena aku bisa ngerasain... Rara sudah berdiri di tempat yang berbeda."
Meli terdiam sejenak. Kali ini ia tidak memotong, ia memberi ruang.
"Sejak kalian ke Bandung," lanjut Arga, suaranya rendah, " Aku gak tahu apa yang sudah terjadi dan aku juga tidak ingin tahu. Yang jelas cara dia jawab chat berubah. Tetap sopan, tetap hangat. Tapi jaraknya ada. Bukan dijauhkan, lebih ke... ditutup rapi."
Meli menghela napas pelan. "Dan aku pun gak tahu apa yang terjadi tanpa sepengetahuanku." Ada jeda sebentar. "Tapi yang aku tahu, mereka memang tidak pernah benar-benar selesai."
Arga mengangguk, tapi matanya seperti menerawang entah kemana.
"Rara itu gitu." Meli melanjutkan, "Kalau dia sadar hatinya ke mana, dia nggak mau narik orang lain setengah-setengah."
"Aku tahu," kata Arga cepat. "Makanya aku nggak marah."
Ia menunduk, jari-jarinya saling mengait. "Aku sempat mikir buat tetap bertahan. Tapi rasanya kayak berdiri di depan pintu yang dari dalamnya udah dikunci. Gunawan gak pernah pergi dari hatinya."
"Kamu tahu dari mana?" Meli mengerutkan alisnya
"Waktu dia nolak aku." jawab Arga cepat. "Dari cara dia menceritakan, aku tahu Gunawan bukan alasan tapi kebenaran."
"Memang apa yang Rara bilang?" Meli sungguh penasaran
Arga menghela napas panjang, seperti sedang memutar ulang satu percakapan yang masih utuh di kepalanya. "Dia nggak banyak jelasin," katanya pelan. "Justru itu yang bikin aku yakin."
Meli diam, menunggu.
"Rara bilang begini," Arga melanjutkan, suaranya diturunkan, meniru nada Rara tanpa menirukan persis, "Aku nggak bisa nerima kamu sekarang. Bukan karena kamu kurang. Tapi karena ada satu perasaan yang belum selesai. Dan aku nggak mau pura-pura kosong."
Meli menelan ludah.
"Terus dia bilang," Arga berhenti sebentar, lalu tersenyum tipis, "Kalau aku nerima kamu, aku bakal nyakitin kamu pelan-pelan. Aku pasti bandingin kamu sama Dia. Dan aku nggak mau jadi orang yang begitu." Arga mengangkat bahu kecil. "Di situ aku ngerti. Nama Gunawan bukan tameng. Dia fakta."
Meli menghembuskan napas, kali ini lebih berat. "Rara emang gitu. Kalau dia jujur, dia jujur sampai ke ujungnya."
"Iya," Arga mengangguk. "Makanya aku kalah tanpa merasa direndahkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
