Pagi itu, tepat seperti janjinya, Gunawan datang.
Bukan pagi yang santai, matahari belum terlalu tinggi, udara Jakarta masih menyisakan dingin tipis yang jarang bertahan lama. Rara berdiri di lobi apartemen dengan tas kecil di bahu, ponsel di tangan. Saat namanya muncul di layar, ia tak kaget. Justru tersenyum.
"Udah di bawah," kata Gunawan singkat.
Rara melangkah keluar. Mobil Gunawan terparkir rapi, mesin menyala pelan. Begitu ia membuka pintu dan duduk di kursi penumpang, aroma kopi hangat langsung menyambut.
"Kamu bawa kopi?" Rara menoleh.
Gunawan mengangguk, menyerahkan gelas kertas itu. "Aku gak sempet sarapan, sekalian beli pastry tadi."
Rara tertawa kecil. "Abis ngapain sampe gak sempet sarapan?"
"Mendadak diminta ngerjain laporan" katanya malas. "Baru kelar jam 8 tadi."
Rara mengangguk.
Mobil melaju. Tak ada musik, hanya suara kota yang perlahan bangun. Heningnya tidak canggung justru terasa pas.
"Ke mana?" Rara akhirnya bertanya.
Gunawan menatap jalan di depan. "Nanti juga kamu tahu."
"Rahasia?"
"Bukan," katanya sambil tersenyum kecil. "Cuma pengen kamu datang tanpa ekspektasi."
Rara mengangguk. Ia menyandarkan punggung, menatap keluar jendela. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu mengendalikan apa pun.
Di lampu merah, Rara melirik sekilas. "Tadi pagi Meli berangkat dijemput seseorang. Kamu tahu?"
Gunawan menoleh. "Enggak. Temannya mungkin"
Rara sedikit ragu. "Mungkin. Tapi dia kayak nutupin dari aku."
"Ya udah nanti aku tanya." jawab Gunawan tenang
"Jangan." potong Rara cepat. "Biarin aja dulu, mungkin dia butuh privacy."
Gunawan mengangguk setuju.
Mobil kembali melaju. Dan pagi itu sederhana, tanpa rencana besar menjadi awal yang tidak berisik, tapi berarti.
Mobil melambat, lalu berhenti di sebuah halaman yang masih berdebu tipis. Rara menurunkan kaca jendela sedikit. Di depannya berdiri sebuah rumah, dindingnya sudah tegak, atapnya terpasang, tapi belum sepenuhnya rampung. Beberapa bagian masih terbuka, cat belum ada, dan tumpukan bahan bangunan tersusun rapi di sudut halaman.
Rara menoleh ke Gunawan. "Disini?"
"Iya," jawabnya singkat.
Ia mematikan mesin, lalu turun lebih dulu. Rara ikut turun, sepatunya menyentuh tanah yang belum sepenuhnya bersih. Pagi itu sunyi, hanya ada bunyi palu entah dari mana.
Gunawan berdiri di sampingnya. "Belum jadi. Masih banyak yang kurang."
Rara mengamati bangunan itu perlahan. Bukan rumah megah, tapi terasa dipikirkan jendelanya besar, terasnya lebar, ada ruang kosong di samping yang seolah sengaja dibiarkan.
"Kenapa ke sini?" Rara bertanya, pelan.
Gunawan menarik napas. "Karena ini tempat yang lagi aku bangun. Pelan-pelan. Sama kayak hidup."
Rara menoleh padanya.
"Aku pengen kamu lihat," lanjutnya, "bukan karena sudah jadi tapi karena prosesnya."
Rara melangkah satu dua langkah ke depan, memandang pintu yang belum terpasang. Ia tersenyum kecil.
Gunawan berdiri agak lama sebelum bicara. Pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan, seolah kata-katanya lebih mudah keluar jika tidak langsung menatap Rara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
