Part 98

13 4 0
                                        

Hari H.

Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Rumah Rara sudah hidup bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Suara langkah kaki, bisik-bisik, peralatan yang dipindah, dan aroma bunga yang memenuhi udara.

Hari itu akhirnya datang. Di kamar, Rara duduk di depan cermin. Kali ini... benar-benar berbeda.v Gaun yang kemarin terasa asing, sekarang sudah melekat sempurna di tubuhnya. Riasannya halus, anggun. Hijabnya tersusun rapi.

Semua orang yang masuk kamar itu berkata hal yang sama "Cantik banget." Tapi Rara hanya tersenyum tipis. Matanya masih menyimpan sesuatu yang belum selesai. Sejak semalam, ia dan Gunawan tidak benar-benar bicara lagi.

Putri berdiri di belakangnya, memperhatikan dari pantulan cermin. "Masih kepikiran?" tanyanya pelan.

Rara tidak langsung menjawab. "...Iya."

Putri tidak kaget. "Kamu mau ketemu dia sebelum akad?" tanyanya hati-hati.

Rara langsung menggeleng cepat. "Gak boleh."

"Bukan itu maksudku," Putri tersenyum tipis. "Aku tanya... kamu mau atau enggak?"

"...Mau," bisiknya akhirnya. "Tapi takut."

Putri mengangguk pelan. "Takut apa?"

Rara menatap dirinya di cermin. "Takut kalau ternyata kesal kemarin masih ada."

Putri tidak menjawab. Karena ia tahu, itu sesuatu yang memang harus Rara hadapi sendiri.

Di tempat lain.

Gunawan berdiri di ruang tamu rumahnya, sudah mengenakan beskap. Rapi. Tegap. Semua orang memuji. Semua orang menepuk bahunya. Semua orang bilang "Siap ya." Gunawan hanya mengangguk. Di tangannya... ponsel yang dari tadi tidak ia lepaskan.

Meli berdiri di dekat pintu, memperhatikan dari jauh. Lalu mendekat. "Belum beres?" tanyanya pelan.

Gunawan menghela napas. "...Belum."

Meli menyandarkan diri ke dinding. "Aa nunggu apa?"

Gunawan tidak menjawab, hanya sedang menyiapkan dirinya.  Meli tersenyum tipis, tapi kali ini tidak menggoda.

Rara berdiri di balik pintu kamar. Di luar, suara mulai berubah. Lebih formal. Lebih tertata. Tanda bahwa rombongan sudah datang. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Tangannya dingin. Putri berdiri di sampingnya, menggenggam pelan.

"Ra..."

Rara menoleh.

Putri tersenyum kecil. "Ini bukan tentang kamu harus jadi sempurna hari ini."

Rara menatapnya.

Putri melanjutkan pelan "Tapi tentang... kamu yakin siapa yang kamu pilih."

Rara menarik napas dalam. Mengangguk kecil.

Di luar.

Gunawan sudah duduk di tempatnya. Ijab akan segera dimulai. Semua mata tertuju. Tapi pikirannya... tidak sepenuhnya di sana. Satu hal masih tertinggal. Belum selesai. Tangannya mengepal pelan di atas lutut.

Dan di detik itu ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Dari Rara. Gunawan langsung membukanya.

"Gun..."

Hanya satu kata. Tapi cukup membuat dadanya terasa penuh.

Beberapa detik. Pesan berikutnya masuk.

"Maaf."

Ruangan tetap berjalan seperti biasa. Orang-orang tidak tahu apa yang terjadi di balik layar kecil itu. Gunawan menatap pesan itu lama. Lalu mengetik. Berhenti. Mengetik lagi. Hapus. Tarik napas.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang