Part 77

17 2 1
                                        

Telepon itu masuk pukul sepuluh malam lewat sedikit.

Gunawan baru saja memasuki mobilnya ketika layar ponsel menyala, nama Jenong. Ia langsung menerimanya. "Neng, kenapa?"

Tak ada jawaban. Hanya suara napas yang patah. Tertahan. Lalu... isak yang pecah begitu saja, tanpa kata, tanpa aba-aba.

"Neng?" ulang Gunawan. Jantungnya berdetak cepat. "Hei. Dengar Aa. Kamu di mana?"

Tangisan di seberang sana semakin jelas. Tidak histeris, justru itu yang membuatnya panik, tangis orang yang sudah kelelahan menahan terlalu lama.

"Meli," katanya lebih pelan, mencoba menurunkan nada suaranya sendiri. "Ngomong sama Aa. Kamu kenapa?"

Beberapa detik berlalu. Lama. Terlalu lama untuk sebuah panggilan tanpa kata. 

Gunawan semakin khawatir. "Kalau kamu nggak mau ngomong, dengerin aja, ya," ujarnya cepat. "Aku ke tempat kamu sekarang. Share lokasi sekarang."

Isak itu berubah jadi tarikan napas panjang yang bergetar. Lalu suara Meli akhirnya muncul pecah, nyaris tak terbentuk.

"Aa..."

Satu suku kata itu cukup membuat dada Gunawan mengeras.

"Iya. Aku di sini," jawabnya segera. "Kenapa sayang?"

Tak ada jawaban langsung. Hanya tangisan lagi, lebih keras sekarang, seolah bendungan yang akhirnya jebol.

"Randa..." Suara Meli patah di nama itu. "Dia... dia bohong."

Gunawan berhenti bergerak. Tangannya yang memegang stir mengeras. "Pelan-pelan," katanya, menahan emosinya sendiri. 

"Aku nggak tahu harus ke siapa," Meli terisak.

Gunawan memejamkan mata sesaat. Bukan karena bingung. Tapi karena ia tahu, saat seseorang menelepon tanpa kata, hanya membawa tangis, itu artinya mereka sedang runtuh sepenuhnya.

"Oke," katanya tegas tapi hangat. "Dengerin aku sekarang. Kamu dimana? Aa kesana ya."

Gunawan segera tancap gas setelah mendapat jawaban dari Meli.

Rara awalnya tak tahu apa yang ia cari. Langkahnya melambat di ujung lorong lantai tiga, lorong yang jarang dilewati malam hari. Lampu-lampu putih menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai mengilap. Entah kenapa, dadanya terasa tidak enak sejak tadi. Bukan cemas yang jelas. Lebih seperti panggilan halus yang tak bisa dijelaskan.

Ia berhenti. Di bangku dekat pintu darurat, seseorang duduk membungkuk.

Meli.

Jasnya masih menempel rapi, tapi bahunya turun, tidak seperti biasanya. Kedua tangannya menggenggam ponsel erat-erat, seolah benda itu satu-satunya penahan agar ia tidak benar-benar jatuh.

Rara mendekat, "Mel," panggilnya pelan. Bukan bertanya. Hanya memastikan kehadiran.

Meli terangkat sedikit, kaget. Ia cepat mengusap pipinya, gerakan refleks yang terlalu terlambat. Matanya merah. Nafasnya belum sepenuhnya stabil.

"Kamu ngapain di sini?" Meli mencoba tersenyum. Gagal.

Rara mendekat, lalu duduk di sebelahnya.  "Aku cari air," jawabnya ringan. Lalu menoleh. "Tapi aku nemu kamu."

Bibir Meli bergetar. Ia menoleh ke arah lorong kosong, lalu kembali menunduk. Napasnya tertahan sesaat lalu pecah. Rara mendekat, bahunya menyentuh bahu Meli.

"Aku di sini," ucapnya pelan. Tidak untuk menghibur. Hanya untuk menemani.

Begitu Rara menariknya ke dalam pelukan, pertahanan Meli runtuh sepenuhnya.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang