Hari-hari setelahnya, Rara sibuk menata dirinya sendiri. Ia belajar pulang tanpa mengecek ponsel. Belajar tertawa tanpa menunggu kabar. Belajar bahwa mencintai diri sendiri juga butuh keberanian.
Gunawan?
Ia sering membuka chat Rara, menulis pesan panjang, lalu menghapusnya. Baru sekarang ia sadar, kehilangan bukan selalu tentang ditinggal, tapi tentang terlambat memilih.
Dan di suatu pagi, Rara bangun dengan perasaan ringan. Bukan karena ia sudah lupa. Tapi karena akhirnya, ia memilih dirinya sendiri.
Gunawan menjalani hari-harinya seperti orang yang kelihatan baik-baik saja. Datang kerja tepat waktu, menyelesaikan target, tertawa seperlunya. Tidak ada yang benar-benar tahu bahwa di sela-sela itu, hatinya sedang dalam mode bertahan.
Teman-temannya mulai bergerak. Pelan tapi konsisten.
"Gun, temen gue ada nih. Pinter, kalem, kayaknya cocok sama lo."
"Coba kenalan sama adik kelas gue, udah kerja juga."
"Lo tuh kebangetan kalo masih sendiri terus."
Gunawan cuma senyum. Angguk kecil. Kadang bercanda balik biar kelihatan santai. Tapi setiap nama baru disebut, pikirannya selalu melakukan hal yang sama, membandingkan. Bukan soal cantik atau pintar. Tapi soal rasa aman yang dulu pernah ia kenal dan hilang.
Ia sempat mencoba. Sekali dua kali bertemu. Obrolan ringan. Basa-basi tentang kerja, cuaca, atau hobi. Semua baik. Semua wajar. Dan semua kosong.
Di tengah tawa perempuan di depannya, Gunawan mendadak sadar, ia tidak sedang mencari seseorang. Ia sedang menghindari rasa bersalah. Bersalah karena dulu memilih diam. Bersalah karena mengira cinta bisa disimpan tanpa dirawat.
Suatu malam, Meli menegurnya tanpa basa-basi. "Aa takut jatuh cinta lagi, atau takut ngulang kesalahan yang sama?"
Gunawan terdiam lama. Lalu menjawab jujur, mungkin untuk pertama kalinya. "Takut nyakitin orang lagi."
Meli menghela napas. "Aa bukan jahat. Tapi lo juga belum sembuh. Dan itu nggak apa-apa. Cuma jangan pake orang lain buat buktiin Aa udah move on."
Kalimat itu menetap. Dan malam itu, Gunawan pulang sendirian, tanpa membuka chat siapa pun. Ia mulai sadar, menutup hati bukan karena tak ada yang layak masuk, tapi karena ada satu nama yang masih ia jaga di dalam, bukan untuk kembali, melainkan untuk dikenang dengan benar.
Sesekali, ia mendengar kabar tentang Rara. Katanya Rara kelihatan lebih tenang sekarang. Katanya Rara sering senyum, lebih ringan, lebih utuh. Dan anehnya, itu tidak menyakitkan. Justru menenangkan.
Gunawan berdiri di depan cermin suatu pagi, mengikat tali sepatu, lalu berkata pada dirinya sendiri, "Belum sekarang." Bukan penolakan pada cinta. Tapi penghormatan pada luka yang belum selesai.
Ia tahu, suatu hari nanti, ia akan membuka hati. Bukan karena didorong waktu, bukan karena rekomendasi siapa pun, tapi karena ia sudah belajar memilih tidak lagi terlambat.
Di meja makan, suasana sebenarnya hangat. Mami Gunawan menyendok sayur ke piringnya, papinya membuka koran pagi, lalu seperti pertanyaan yang sudah hafal jalannya itu datang.
"Kamu sekarang ada dekat sama siapa nggak?" tanya maminya, nada suaranya lembut tapi penuh harap.
Gunawan mengunyah pelan, menelan, lalu tersenyum kecil. Bukan senyum menghindar, lebih seperti senyum orang yang sudah memikirkan jawabannya jauh sebelum ditanya.
"Belum, Mi," katanya. "Lagi nggak ke mana-mana."
Papinya melirik dari balik koran. "Kerja terus juga nggak baik. Hidup jangan isinya target sama laporan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
