Part 54

30 3 0
                                        

Hari demi hari mereka jalani dengan suasana yang selalu tenang dan baik-baik aja. Tidak ada lagi konflik antara Aulia dan Rara. Tak ada lagi kesalahpahaman diantara Rara dan Gunawan. Semangat belajarpun meningkat dari seluruh penghuni kelas hingga akhirnya hari pembagian rapot pun tiba. 

Hari pembagian rapot selalu ramai. Lorong dipenuhi orang tua, guru, dan siswa yang mondar-mandir. Rara baru saja datang, berjalan di samping papanya.

Di sisi lain, Gunawan sedang berbicara dengan papanya di depan kelas. Mereka menunggu wali kelas memulai pelaksanaan pembagian rapot.

Gunawan menoleh sekilas lalu tubuhnya refleks menegang. Rara berjalan ke arahnya. Dan bukan cuma Rara, ada papanya yang sudah sangat Gunawan kenal.

Rara juga melihat Gunawan dan langsung berhenti sejenak, sebelum senyum kecil muncul di bibirnya. "Ya ampun... ketemu juga." pikirnya.

Kedua keluarga itu semakin dekat sampai akhirnya berada dalam jarak beberapa langkah. Rara dan Gunawan hanya bisa saling melirik gugup.

Lalu—

Lho? Pak Hilman? "suara papa Rara pecah terlebih dulu. Wajahnya langsung berubah cerah.

Gunawan dan Rara serempak menoleh ke arah papa mereka, sama-sama bingung.

Papa Gunawan pun tertawa lebar. "Dokter Noto! Wah, saya nggak nyangka ketemu di sekolah anak dok!"

Gunawan terperangah kecil. "Papa kenal sama Papanya Dhea?"

Papanya hanya menepuk bahu Gunawan sambil tertawa. "Ya kamu nggak pernah cerita kalau dr.Noto papanya Dhea kamu."

Gunawan tersedak hawa kosong. "Pa!" serunya cepat, membuat pipi Rara langsung merona.

Orang tua keduanya justru semakin antusias.

"Wah, ternyata anak kita satu sekolah ya?"

"Untung sama-sama juara."

"Kali ini masih bertahan gak ya juaranya."

Gunawan dan Rara berdiri berdampingan, sama-sama menunduk, sama-sama tidak tahu harus tersenyum atau minta bumi menelan mereka sekarang juga.

Namun di balik rasa canggung itu, ada hangat manis yang sulit ditutupi. Setelah beberapa menit mengobrol soal perkembangan lutut, obrolan antara pasien dan dokterya, papa Gunawan menepuk bahu ayah Rara. "Dok, kapan-kapan main sepeda barenglah kita, lutut udah boleh dibawa healing kan dok."

Papa Rara tersenyum ramah. "Boleh banget, udah aman Pak. Iya nih, jangan kalah sama anak-anak ini yang sering pergi bareng."

Gunawan dan Rara spontan saling melirik pandangan singkat, tapi cukup untuk membuat keduanya mengalihkan pandangan lagi secepat kilat. Kemudian terdengar guru wali kelas datang dan mempersilahkan para orangtua untuk masuk.

Beberapa menit kemudian, semuanya keluar kembali dari ruangan setelah menerima rapot dan penjelasan singkat.

Papa Rara melirik sambil tersenyum bangga. "Rara, kamu bagus banget progresnya. Papa bangga."

Rara menunduk, wajahnya memerah tapi matanya berbinar. "Makasih, Pah."

Sementara itu, Papa Gunawan menepuk pundak anaknya begitu mereka keluar. "I, nilai kamu stabil, kamu tetap aktif organisasi, olimpiade juga jalan. Mantap, Nak."

Gunawan tersenyum kecil, mencoba sok biasa saja. "Iya, Pah..."

Tapi guru wali kelas, yang kebetulan ikut keluar dan melihat mereka berdiri berdekatan, tersenyum hangat.

"Rara, Gunawan," katanya. "Kalian dua ini luar biasa. Disiplinnya bagus, kerjanya rapi, kalian saling dukung juga. Ibu bangga banget lihat perkembangan kalian semester ini."

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang