Part 71

19 2 0
                                        

Hari itu rumah Rara terasa lebih ramai dari biasanya. Bukan karena tamu, tapi karena perasaan. Map-map cokelat berisi berkas sudah rapi di meja, undangan pengangkatan sumpah apoteker tergeletak paling atas, bersih, resmi, dan diam-diam membuat dada Rara hangat setiap kali meliriknya.

Mamanya membaca ulang undangan itu, matanya berbinar. "Lulusan terbaik lagi," katanya bangga. "Alhamdulillah."

Papa Rara tersenyum lebar, lalu bersandar santai di kursinya. Nada suaranya berubah jadi setengah menggoda. "Kalau sumpah apoteker nanti," katanya, "yang duduk di sebelah kamu siapa, hm?"

Rara tertawa kecil, refleks. "Pah..."

Mamanya ikut nimbrung. "Iya. Masa nanti fotonya cuma sama Mama Papa terus? Cowok-cowok yang kemarin itu ke mana?"

Rara menggeleng pelan, senyumnya tetap ada tapi lebih tenang. "Nggak ada yang harus dibawa, Ma."

Papanya mengangkat alis. "Serius? Lulusan terbaik, cantik, apoteker pula. Masa datang sendiri?"

Rara menarik napas, lalu menjawab jujur, tanpa nada defensif. "Aku pengen hari itu aku datang sebagai aku. Anak Mama Papa yang akhirnya sampai di titik ini."

Mamanya menatapnya lama, lalu tersenyum lembut. "Kamu nggak kesepian?"

Rara menggeleng. "Enggak. Aku happy."

Kalimat itu sederhana, tapi membuat ruangan hening sejenak.

Papa Rara terkekeh kecil. "Ya sudah. Kalau nanti jodohnya datang, datangnya pas kamu udah siap ya."

Rara tersenyum lebih lebar. "Aamiin."

Ia kembali melirik undangan di meja. Untuk pertama kalinya, ia membayangkan hari pengangkatan sumpah itu tanpa bayang-bayang siapa pun yang absen. Tidak ada kursi kosong yang harus diisi. Tidak ada harapan yang menggantung.

Hanya dirinya, jas putih, sumpah yang akan ia ucapkan dan orang-orang yang selalu ada sejak awal. Dan di dalam hatinya, Rara tahu jika suatu hari ada lelaki yang mendampinginya, ia bukan pengganti siapa pun, melainkan seseorang yang datang ketika ia sudah benar-benar siap berjalan sejajar.


Awalnya Rara hanya niat membuka Instagram sebentar, sekadar melepas lelah setelah seharian mengurus berkas pengangkatan sumpah. Ia menggulir pelan, sampai jarinya berhenti di satu foto yang langsung dikenali matanya, senyum lebar, dan di samping Meli ada Gunawan.

Rara melihat unggahan itu tanpa sengaja.

Rara melihat unggahan itu tanpa sengaja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rara menatap foto itu lama. Bukan karena cemburu. Bukan juga karena sakit yang menusuk. Lebih seperti ada ruang di dadanya yang tiba-tiba terbuka, lalu terisi angin dingin. Gunawan terlihat baik-baik saja. Lebih kurus, tapi senyumnya tulus. 

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang