Rumah sakit selalu bising, tapi entah kenapa Arga dan Meli sering bertemu di sela-sela sunyi. Di lorong panjang dekat ruang operasi, di pantry kecil lantai tiga, atau di bangku besi dekat taman belakang yang jarang dilewati siapa pun. Tidak pernah direncanakan. Mereka hanya sering berada di waktu yang sama.
Meli biasanya datang dengan map tipis dan langkah cepat. Arga dengan wajah lelah yang tak pernah ia keluhkan. Mereka hanya saling sapa singkat. Senyum kecil. Anggukan.
Sampai suatu malam jaga.
Meli menemukan Arga duduk sendirian di ruang tunggu staf, menatap kosong ke arah jam dinding. Jas dokternya belum diganti. Kopinya sudah dingin.
"Kamu belum pulang?" tanya Meli, suaranya pelan, seolah takut mengganggu pikirannya.
Arga mengangkat kepala. "Belum. Abis kasus panjang."
Meli tidak bertanya lebih jauh. Ia duduk di kursi seberang, membuka botol minum, lalu menutupnya lagi. Seperti sadar bahwa yang dibutuhkan Arga bukan air, tapi teman diam.
Beberapa menit berlalu tanpa kata.
"Ada pasien anak," Arga akhirnya bicara. "Ibunya nangis tapi maksa kuat. Itu bikin kita yang melihat bingung dan capek."
Meli mengangguk pelan. "Capek yang ikut kebawa pulang."
Arga menoleh. Sedikit terkejut. "Iya."
Sejak malam itu, mereka mulai sering duduk berdua setelah shift. Tidak lama. Tidak intens. Tapi cukup. Meli mulai hafal kebiasaan Arga, cara ia menghela napas sebelum bicara, cara tangannya diam terlalu lama saat lelah, cara ia tersenyum tipis kalau akhirnya merasa didengar.
Arga juga mulai menunggu tanpa sadar. Kalau jam dinding mendekati akhir shift Meli, ia melirik lorong. Bukan karena ingin bicara, hanya memastikan Meli baik-baik saja.
Suatu sore, Meli terlambat keluar dari ruang perawat. Wajahnya pucat.
"Kamu kenapa?" Arga bertanya terlalu cepat untuk sekadar rekan kerja.
Meli tersenyum kecil. "Nggak apa-apa. Cuma... hari ini agak berat."
Arga mengangguk, lalu berkata pelan, "Duduk sebentar. Lima menit aja. Aku temenin."
Dan di situlah Arga sadar bukan dengan degup jantung berlebihan, bukan dengan kalimat dramatis tapi dengan rasa ingin tinggal sedikit lebih lama di dekat seseorang. Bukan karena ia butuh ditemani. Tapi karena bersama Meli, lelahnya terasa lebih jujur.
Malam itu, hujan turun pelan di halaman belakang rumah sakit. Tidak deras, tidak pula berhenti. Seperti sesuatu yang menggantung.
Arga berdiri di dekat jendela lorong ICU, menunggu hasil observasi pasien. Di pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri, mata lelah, bahu turun, pikiran penuh. Lalu bayangan lain muncul di sampingnya, Meli.
"Kamu belum istirahat?" tanya Meli, nadanya biasa. Terlalu biasa.
Arga menggeleng. "Sebentar lagi."
Meli bersandar di dinding, menatap hujan. Ada lingkar lelah di matanya, tapi ia tetap tersenyum. Senyum yang tidak dibuat-buat. Senyum yang selama ini, tanpa Arga sadari, selalu ia cari setelah hari panjang.
Di sanalah Arga berhenti mengelak. Ia menyadari satu hal sederhana tapi menakutkan, kehadiran Meli bukan lagi kebetulan yang nyaman. Ia menunggu Meli. Ia memperhatikan Meli. Ia peduli, dengan cara yang tidak ia lakukan pada siapa pun belakangan ini. Dan itu bukan rasa yang ingin ia lawan. Dalam hati, Arga berkata pelan nyaris seperti janji pada dirinya sendiri, Ini perasaan. Dan aku nggak bisa pura-pura lagi. Bukan ingin memiliki. Bukan ingin mengikat. Hanya pengakuan jujur bahwa hatinya sudah melangkah satu langkah lebih dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
