Part 55

28 2 0
                                        

Pagi itu sekolah kembali ramai setelah berminggu-minggu lengang. Suasana yang seharusnya menyenangkan justru terasa menegangkan bagi sebagian siswa termasuk Rara dan Gunawan. Di papan pengumuman, daftar pembagian kelas sudah ditempel rapi.

Rara berdiri di sana cukup lama, jemarinya menyusuri deretan nama dengan mata yang terlalu fokus. XII IPA 3. Ia berhenti. Namanya tercetak jelas di sana. Dadanya mengendur sedikit sampai tanpa sadar matanya bergeser ke papan sebelah. XII IPA 2. Nama Gunawan ada di sana bersama Meli dan Nia. Bukan satu kelas lagi dengannya.

Rara menghela napas pelan, terlalu pelan sampai hampir tak terdengar. Ia sudah menebak kemungkinan itu, tapi tetap saja ada sesuatu yang jatuh di dadanya bukan sakit, lebih seperti kehilangan kecil yang tidak tahu harus ditaruh di mana.

"Yank..."

Suara itu membuatnya menoleh. Gunawan berdiri beberapa langkah di belakangnya, masih membawa map biru tua, rambutnya sedikit lebih rapi dari biasanya. Tatapan mereka bertemu, sama-sama sudah tahu jawabannya bahkan sebelum kata apa pun keluar.

Gak apa-apa ya?" tanya Gunawan, suaranya berusaha terdengar biasa. Rara mengangguk. 

Mereka terdiam. Di sekitar mereka, siswa lain tertawa, saling memanggil nama teman sekelas, merencanakan duduk sebangku. Dunia tetap berjalan normal, seolah jarak kecil yang baru tercipta ini bukan apa-apa.

Iya, gapapa "jawab Rara pelan

Kemudian mereka berjalan ke arah taman sekolah, menghampiri teman-temannya yang lebih dulu disana.

Aku bukan sedih kita gak satu kelas, tapi lihat di daftar mereka seperti asing semua buat aku "ucap Rara lirih

Aku paham. Tapi nanti ada Syifa, aku yakin kamu gak akan kesepian "Gunawan sedikit menenangkan kekasihnya. Rara tersenyum kecil. 

Gunawan tahu Dheanya masih belum tenang. "Nanti aku titipin kamu ke Syifa, ya."

Dan hari pertama itu pun dimulai, dengan kelas baru, bangku baru, dan jarak yang tak lagi sama namun perasaan yang masih sama.

Rara duduk di bangku barunya dengan punggung sedikit tegang. Kelas XII IPA 3 terasa asing, bukan karena ruangannya, tapi karena orang-orang di dalamnya. Suara kursi diseret, tawa kecil yang saling menyapa, dan obrolan ringan tentang liburan mengalir tanpa benar-benar melibatkannya. Ia menoleh ke samping.

Syifa duduk di sebelahnya, sibuk mengeluarkan buku dari tas. Di seberang, hanya Hari yang wajahnya benar-benar ia kenal. Selebihnya nama-nama yang pernah ia dengar sekilas, tapi tak pernah benar-benar ia ajak bicara. Rara menghela napas pelan. Kayaknya bakal susah... batinnya.

Biasanya, ia selalu punya "tempat aman". Entah itu Gunawan yang duduk tak jauh darinya, atau Putri yang tinggal menoleh untuk bertukar ekspresi. Sekarang, ruang itu terasa kosong. Ia harus memulai dari awal, sementara dirinya belum sepenuhnya siap.

Ra "bisik Syifa sambil sedikit mencondongkan badan. "Kamu kenapa? Kok kelihatan tegang banget."

Rara menggeleng pelan, lalu memaksakan senyum. "Gapapa. Cuma kayak orang nyasar aja."

Syifa terkekeh kecil. "Tenang. Ada aku. Gunawan udah titipin kamu kok. Kita barengan aja." Jawaban itu sedikit menghangatkan dada Rara, tapi kegelisahannya belum sepenuhnya hilang. 

Saat bel pertama berbunyi, Rara menarik napas dalam-dalam. Kelas ini memang baru. Orang-orangnya pun belum akrab. Tapi setidaknya, ia tidak benar-benar sendirian.

Di kelas XII IPA 2, Gunawan duduk di bangku paling belakang, seperti biasa. Buku pelajaran terbuka di depannya, tapi sejak tadi fokusnya tidak kesana. Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang