Part 85

21 4 0
                                        

Besoknya, Papa Rara sengaja mengundang Gunawan makan malam. Papa Rara masih berkegiatan di Jakarta, sedangkan mamanya sudah kembali ke Bandung. Bukan acara resmi. Bukan pertemuan tegang. Hanya makan sederhana di apartemen Rara.

Gunawan datang tepat waktu. Tidak terlalu cepat, tidak terlambat. Ia membawa buah tangan, bukan yang mahal, tapi yang dipilih dengan pikir.

"Om suka kopi dark roast kan? Kebetulan saya lewat toko langganan," katanya sambil menyerahkan bingkisan kecil.

Papa Rara menerima, ekspresinya netral. "Kamu ingat?"

Gunawan tersenyum. "Rara pernah cerita."

Itu poin pertama. Mengingat detail kecil.

Saat makan malam, Papa Rara mulai "menggeser papan catur" pelan-pelan.

"Kamu sekarang lagi pegang proyek besar ya?" tanyanya.

"Alhamdulillah, Om."

"Kalau suatu saat harus pindah kota?"

Rara berhenti mengunyah. Itu pertanyaan yang belum pernah mereka bicarakan serius.

Gunawan tidak langsung menjawab. Ia melirik Rara sekilas, lalu kembali menatap Papa.

"Kalau pindah itu untuk masa depan yang lebih baik, saya akan ajak Rara diskusi. Tapi saya tidak akan membuat keputusan sepihak."

Papa mengangkat alis tipis. "Dan kalau Rara tidak mau ikut?"

Gunawan terdiam sebentar, lebih seperti ia sedang benar-benar menimbang. "Berarti saya harus cari cara lain. Karena bagi saya, masa depan yang baik tidak masuk akal kalau dia tidak nyaman menjalaninya."

Rara menunduk, menahan sesuatu di dadanya. Papa belum tersenyum. Tapi gelasnya berhenti berputar.

Papa tidak langsung memotong percakapan. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Gunawan lebih dalam.

"Kamu terdengar idealis," katanya pelan. "Hidup tidak selalu memberi pilihan yang rapi."

Gunawan mengangguk. "Saya tahu, Om."

"Kalau nanti pilihan itu justru membuat kamu tertinggal? Kariermu misalnya."

Rara perlahan mengangkat wajah. Ia belum pernah mendengar papanya bertanya sejauh ini.

Gunawan justru tampak lebih tenang. "Karier bisa dibangun lagi, Om. Tapi kepercayaan orang yang kita ajak jalan kalau rusak, tidak selalu bisa diperbaiki."

Sunyi turun lagi di antara mereka.

Papa menautkan jari di atas meja. "Kamu berani menjamin tidak akan berubah?"

Gunawan tersenyum kecil. "Saya tidak berani menjamin tidak akan berubah. Semua orang berubah. Tapi saya bisa berjanji untuk tidak berhenti belajar jadi pasangan yang lebih baik."

Itu jawaban yang tidak dramatis. Tapi jujur. Rara menelan ludah. Dadanya terasa hangat sekaligus rapuh.

Papa kemudian mengalihkan pandangannya ke Rara. "Dan kamu, Ra? Kamu siap dengan segala kemungkinan itu?"

Rara terdiam sebentar. Ia tidak ingin terdengar membela. Ia ingin terdengar yakin.

"Aku nggak mau hidup yang sempurna, Pa," katanya pelan. "Aku cuma mau hidup yang dijalani bareng orang yang mau duduk dan ngobrol kalau ada masalah. Dan dia selalu begitu."

Gunawan tidak menyela. Ia hanya mendengarkan.

Papa kembali menatap Gunawan. "Kalau suatu hari kamu dan Rara bertengkar besar?"

Gunawan kali ini langsung menjawab. "Saya tidak akan pergi dalam keadaan marah."

Itu membuat Papa sedikit mengangkat kepala.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang