Part 46

32 3 0
                                        

Istirahat pertama, suasana kelas agak riuh. Aulia baru saja kembali dari koperasi dengan sekotak susu di tangan ketika ia mendengar Syifa dan Putri berbicara pelan di pojok kelas.

Kasihan banget sih Ra, sakitnya sampai masuk rumah sakit "ucap Syifa iba

Aulia berhenti berjalan. Kakinya seakan menancap di lantai.

Iya itu gara-gara dia kemarin makan pedas kebanyakan. Dia tuh suka maksa kalau lagi stres "sahut Putri

Kotak susu di tangan Aulia hampir jatuh "Rara... masuk rumah sakit?" gumamnya

Aulia meremas ujung kotak susu itu tanpa sadar. Ada sesuatu yang menusuk dadanya—tidak nyaman, seperti rasa bersalah yang sudah lama ia abaikan kini mendadak muncul.

Put kenapa nggak kasih tahu ke aku kalau Rara masuk rumah sakit? "suara Aulia terdengar khawatir

Putri menatapnya datar, tetapi bukan sinis "Kamu sama Rara udah jarang ngobrol, kita kira kamu nggak peduli."

Kalimat itu seperti tamparan halus. Aulia ingin menyangkal. Mulutnya sempat terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia ingat semua hal yang membuat jarak antara dirinya dan Rara, kesalahpahaman, gengsi, dan rasa tidak nyaman yang ia biarkan tumbuh. Dan sekarang Rara sakit tanpa ia tahu apa-apa.

Aulia perlahan duduk di bangkunya. Kotak susu di tangannya sudah penyok.
Ia memandang meja kosong Rara, dan baru saat itu ia sadar betapa sepinya sudut kelas itu tanpa keberadaan gadis yang selama ini ia anggap sebagai saingan.

Latihan olimpiade hari itu baru saja selesai. Gunawan sedang membereskan buku dan kalkulatornya ketika suara Bu Mira terdengar dari depan kelas olimpiade.

"Gunawan, sebentar."

Gunawan menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh, sedikit bingung. "Ya, Bu?"

Bu Mira memberi isyarat kecil dengan telapak tangan, memintanya mendekat. Ada ekspresi lembut di wajahnya, tapi tatapannya penuh rasa ingin tahu. 

Bu Mira menyilangkan tangan di depan dada dan menunduk sedikit agar suaranya tidak terlalu keras "Kamu kemarin izin latihan, ya?"

Gunawan menelan ludah. "Iya, Bu. Maaf ya, Bu. Kemarin mendadak."

Bu Mira tersenyum kecil "Apa kamu ke rumah sakit?"

Senyum Gunawan langsung memudar sedikit. "I—iya Bu."

Menjenguk Rara? "pertanyaan Bu Mira membuat Gunawan tersentak

Gunawan mematung sepersekian detik. Dia tidak menyangka guru menyebut nama itu begitu langsung. Telinganya terasa panas "Iya Bu. Rara sakit."

Bu Mira menatapnya lama, ada sedikit nada menginterogasi "Kalian dekat, ya?"

Gunawan spontan menggeleng "Bukan... maksudnya, dekat tapi... bukan yang gimana-gimana, Bu. Dia teman saya. Dia tiba-tiba dirawat, saya khawatir saja "Gunawan bingung harus menjawab seperti apa

Bu Mira mengangguk pelan, senyumnya kecil. "Ibu paham Gunawan. Yang terpenting kamu jangan sampai mengabaikan tugas penting kamu. Kamu harus bisa menyeimbangkan semuanya"

Gunawan menunduk dalam-dalam, iya tak berani menatap gurunya. Kata-kata yang barusan dilontarkan seperti peringatan untuk dirinya.

Bu Mira menghela napas lembut "Bagaimana keadaannya sekarang?"

Ekspresinya langsung melunak "Alhamdulillah, Bu... sudah jauh lebih baik. Sudah boleh pulang". Gunawan memang sudah mendapatkan kabar dari Rara, kalau dirinya sudah diperbolehkan pulang sore ini. Rara memberitahu agar Gunawan tidak perlu ke rumah sakit, besok ia akan kembali masuk sekolah. 

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang