Part 93

17 3 1
                                        

Rumah orang tua Rara sore itu terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada pesta besar, tidak ada dekorasi berlebihan. Hanya beberapa rangkaian bunga sederhana di ruang tamu, karpet bersih yang digelar, serta meja kecil dengan kotak cincin di atasnya. Namun justru karena sederhana, suasananya terasa lebih hangat.

Yang hadir pun hanya orang-orang yang benar-benar dekat dengan mereka. Keluarga Rara, keluarga Gunawan, Meli, Arga, serta beberapa kerabat yang memang sudah seperti keluarga sendiri.

Rara duduk di samping mamanya dengan kebaya sederhana berwarna pastel. Tangannya sejak tadi saling menggenggam di pangkuan, berusaha menenangkan diri meski jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.

Di seberangnya, Gunawan duduk bersama kedua orang tuanya. Sesekali ia menatap Rara. Bukan dengan gugup seperti dulu, tapi dengan perasaan yang jauh lebih dalam seolah semua perjalanan panjang mereka akhirnya benar-benar sampai di titik ini.

Papih Gunawan yang pertama membuka pembicaraan. Dengan suara tenang dan penuh hormat ia menyampaikan maksud kedatangan mereka hari itu. Bukan sekadar berkunjung, melainkan membawa niat baik untuk meminang Rara secara resmi.

Ruang tamu yang tadi penuh obrolan pelan mendadak menjadi hening. Semua orang menunggu jawaban dari ayah Rara.

Pria itu menatap Gunawan cukup lama. Tatapannya tidak keras, tapi penuh penilaian seperti seorang ayah yang ingin memastikan putrinya benar-benar diserahkan pada orang yang tepat.

Lalu ia menarik napas pelan.

"Dari dulu saya sudah lihat cara kamu menjaga Rara," katanya akhirnya. "Dan saya juga tahu perjalanan kalian tidak selalu mudah."

Gunawan menunduk hormat.

Papah Rara melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih lembut. "Kalau niatmu memang serius... kami menerima."

Kalimat itu membuat suasana seketika berubah.

Mama Rara langsung tersenyum haru. Orang tua Gunawan mengangguk lega. Meli yang duduk di pojok bahkan refleks menepuk tangan kecil sambil berbisik pada Arga, "Akhirnya."

Gunawan menatap Rara. Rara juga menatapnya balik, dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.

Beberapa menit kemudian, momen yang sejak tadi ditunggu akhirnya tiba.

Gunawan berdiri, lalu berjalan mendekati Rara. Di tangannya sudah ada kotak kecil berisi cincin. Ia tidak berlutut seperti di film-film. Tapi cara ia memandang Rara saat itu jauh lebih berarti dari segala gestur dramatis.

"Ra," ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar tapi tetap mantap. "Kamu sudah tahu semua perjalanan kita sampai di sini."

Rara menahan napas.

"Dan kalau kamu masih mau jalan sama aku... bukan cuma hari ini, tapi seterusnya..." Gunawan membuka kotak cincin itu. "...aku ingin kamu jadi pasangan hidupku."

Air mata Rara akhirnya jatuh juga. Ia tidak menjawab dengan kata-kata panjang. Hanya satu kalimat sederhana. "Iya."

Ruang tamu langsung dipenuhi tepuk tangan kecil dan tawa haru.

Gunawan kemudian mengambil tangan Rara yang sedikit gemetar, lalu perlahan memasangkan cincin di jarinya. Tepat saat cincin itu terpasang, Meli yang sejak tadi menahan diri akhirnya berseru pelan,

"Ya ampun, akhirnya resmi juga kalian!"

Arga sampai tertawa melihat ekspresi hebohnya.

Rara menunduk malu sambil tersenyum, sementara Gunawan masih memegang tangannya seolah tidak ingin melepaskannya.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang