Part 45

33 5 0
                                        

Gunawan berdiri tepat di samping Rara, ia tidak bisa lagi menahan napasnya yang bergetar. "Sayang" ucapnya lirih, hampir berbisik. Tidak ada respon. Rara masih tertidur, wajahnya masih pucat. Gunawan memandang punggung tangan Rara yang tertancap jarum infus. Jemarinya hampir terulur menyentuh, tapi ia menahannya karena ada mamanya Rara.

Mama Rara menjelaskan pelan, "Tadi malam dia muntah terus. Asam lambungnya naik parah. Sekarang masih pusing dan lemes katanya. Dokter bilang dia perlu istirahat total."

Gunawan mengangguk, meski matanya tetap terpaku pada wajah Rara. Akhirnya, setelah beberapa menit sunyi, karena Gunawan tidak lagi fokus pada perbincangan mamanya Rara dan teman-temannya, Rara membuka matanya perlahan.

Rara mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan mata dengan cahaya ruangan. Awalnya pandangannya kosong lalu fokusnya jatuh pada sosok di samping ranjang. Wajah pucat Rara sempat terlihat bingung, sampai akhirnya ia mengenali siapa yang duduk di sana.

Al "Suara itu lemah, serak, tapi cukup untuk membuat dada Gunawan mencelos.

Ya sayang" jawab Gunawan cepat, terlalu cepat. "Kamu gimana? Sakitnya masih?"

Rara menelan sulit, kemudian mengangguk pelan. "Masih tapi udah mendingan dikit."

Gunawan mengembuskan napas lega tapi matanya langsung berkaca-kaca lagi. Rara melihat itu, dan alih-alih bingung, wajahnya melembut.

Kamu kenapa?" tanya Rara pelan.

Gunawan tidak langsung menjawab. "Maaf," ucapnya akhirnya—pendek, tapi dipenuhi penyesalan. "Aku terlalu sibuk latihan, sibuk osis, sibuk sampai...."

Rara menggeleng pelan, dengan cepat memotong "Enggak. Kamu gak salah apa-apa"

Gunawan menoleh. Rara melanjutkan "ini salah aku karena terlalu sering makan pedas dan asam"

Gunawan terdiam. Ini juga bagian dari salahnya, dia tidak ada untuk mengingatkan Rara. Dia juga tidak pernah bertanya. Belum sempat melanjutkan obrolan mereka, teman-temannya sudah mendekat, ingin mengetahui kabar Rara. Gunawan melihat senyum Rara yang lebih tulus saat bersama sahabat-sahabatnya, tetapi bersama dirinya seperti ada yang tertahan.

Setengah jam kemudian, teman-temannya pamit pulang tapi tidak dengan Gunawan. Ia ingin menemani Rara lebih lama. Mama Rara pun mengerti. Kebetulan sekali harus ada yang beliau kerjakan, tapi tetap bisa dikerjakan lewat laptop. Mama dan Papanya Rara memang bekerja ditempat yang sama, di rumah sakit ini.

Gunawan tetap duduk di kursi samping ranjang. Rara sudah tidak separah pagi tadi, meskipun masih tampak lemas. Ia memandang Gunawan yang sejak tadi tidak bergerak jauh dari kursi itu.

Al "panggil Rara pelan.

Gunawan menoleh cepat, terlalu cepat. "Kenapa? Sakit? Pusing? Mau panggil perawat?"

Rara sampai terkekeh kecil. "Enggak aku cuma manggil."

Gunawan memejamkan mata sebentar, menyadari betapa waspada dirinya. "Oh. Oke. Kamu manggil aja."

Rara menatapnya geli. "Kamu dari tadi kaku banget, loh."

Kaku gimana?" Gunawan mencoba terlihat santai, padahal duduknya saja masih tegang.

Kali ini Rara tersenyum tipis. "Kayak patung. Eh bukannya kamu ada latihan ya hari ini?"

Gunawan mengangguk "Iya, aku udah ijin"

Rara sedikit kaget "Ijin? Emang boleh?"

Gunawan tersenyum kecil. "Boleh. Buktinya aku ada disini"

Rara hanya mendengus pelan, "Gak apa-apa? Kamu gak ketinggalan materi?"

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang