Menjelang ujian kelulusan, mereka akhirnya sepakat melakukan satu hal sederhana tapi bermakna besar. Belajar bersama. Bukan ikut les, bukan kelas tambahan yang ramai dan melelahkan. Gunawan dan Rara memilih rumah. Ruang yang tenang, akrab, dan penuh kebiasaan kecil yang akan segera berubah.
Mereka duduk berhadapan, buku terbuka, laptop menyala. Sesekali saling bertanya, sesekali saling mengoreksi. Gunawan menjelaskan logika soal dengan sabar, sementara Rara merapikan catatan dengan rapi, memastikan tak ada yang terlewat.
Di sela belajar, ada jeda-jeda sunyi yang tidak canggung. Hanya tatapan singkat, senyum kecil, dan kesadaran bahwa momen seperti ini tak akan selalu bisa mereka ulang.
Kalau nanti kita udah LDR "ucap Gunawan pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari buku, "jangan langsung mikir yang aneh-aneh ya."
Rara tersenyum tipis. "Kamu juga. Percaya itu bukan cuma diminta, tapi dijaga."
Gunawan menoleh. "Aku lagi belajar itu."
Rara mengangguk. "Aku juga."
Belajar bersama itu bukan sekadar tentang ujian kelulusan. Itu cara mereka menabung kepercayaan, menguatkan rasa aman sebelum jarak benar-benar mengambil alih peran pertemuan.
Saat senja turun dan buku-buku mulai ditutup, mereka sadar LDR memang tak terhindarkan, tapi mereka sedang berusaha masuk ke fase itu bukan dengan rasa takut, melainkan dengan keyakinan bahwa mereka sudah saling memilih, dengan sadar dan utuh.
Di tengah hiruk-pikuk siswa lain yang mondar-mandir ikut les tambahan, wajah tegang, dan keluhan tak ada habisnya soal try out, Gunawan dan Rara justru tampak tenang. Tidak santai berlebihan, tapi juga tidak panik. Mereka datang ke kelas dengan persiapan, catatan rapi, dan fokus yang konsisten.
Untuk pertama kalinya, sikap Gunawan dan Rara benar-benar menarik perhatian Bu Mira.
Bu Mira menyadarinya saat memeriksa daftar les tambahan. Nama Gunawan dan Rara kosong.
Sepulang jam pelajaran, Bu Mira memanggil mereka.
"Kalian berdua gak ikut les tambahan?" tanyanya, nadanya datar tapi penuh selidik.
Tidak, Bu "jawab Rara sopan.
Kami belajar mandiri "tambah Gunawan.
Bu Mira menatap mereka bergantian, cukup lama. Bukan tatapan menghakimi, melainkan menilai.
Kalian kelihatan siap "kata Bu Mira akhirnya. "Tenang. Itu jarang."
Rara dan Gunawan saling pandang singkat.
Belajar itu bukan soal ikut semua fasilitas "lanjut Bu Mira. "Tapi soal mengenal diri sendiri, cara belajar, batas, dan fokus." Nada suaranya melembut. Untuk pertama kalinya, tidak ada peringatan soal jarak, distraksi, atau kekhawatiran yang dulu ia sampaikan.
Pertahankan "tutup Bu Mira. "Dan jaga konsistensi kalian."
Saat mereka keluar ruangan, langkah Gunawan terasa lebih ringan. Bukan karena pujian semata, tapi karena untuk pertama kalinya, usaha mereka dipercaya bahwa ketenangan itu bukan lalai, melainkan hasil dari persiapan dan keyakinan yang mereka bangun bersama.
Sore itu, setelah beberapa jam belajar, suasana rumah Rara terasa lebih santai. Buku-buku masih terbuka di meja, tapi fokus sudah sedikit mengendur. Rara ke dapur membantu mamanya, sementara Gunawan duduk di ruang tengah bersama Papa Rara yang sejak tadi memperhatikannya diam-diam.
Gimana persiapan kuliahnya, Gun? "tanya Papa Rara akhirnya, nadanya tenang tapi penuh minat.
Gunawan tersenyum sopan. "Masih proses, Om. Saya rencananya ambil IT di Jakarta."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
