Part 63

16 2 0
                                        

Tiga semester telah mereka lalui di universitas masing-masing. Hubungan Gunawan dan Rara kini menjadi teman baik, teman cerita tanpa harus membahas masa lalu dan perasaan. Tapi sampai saat ini perasaan keduanya masih sama dan mereka pendam untuk sendiri. 

Malam itu, Gunawan menelepon Rara seperti biasa. Sudah seperti rutinitas yang harus di jalani, setiap 2 atau 3 hari sekali pasti mereka bersua lewat telepon.

Gunawan: Ra, boleh cerita nggak?

Rara: Boleh. Kenapa? Kedengerannya serius amat.

Gunawan: Enggak serius-serius banget sih...Cuma akhir-akhir ini aku ngerasa agak beda sama satu orang di kampus.

Rara: Oh ya? Beda gimana?

Gunawan: Aku jadi kepikiran terus. Kalau dia nggak masuk kelas, aku nyari. Kalau dia cerita, aku dengerin banget. Kayak... ya, tertarik aja.

Rara tidak langsung menyahut, tapi Gunawan malah kegirangan. Ia paham respon apa yang Rara berikan.

Rara: Berarti kamu nyaman sama dia dong.

Gunawan: Kayaknya iya. Makanya aku bingung sendiri. Aku nggak nyangka bisa ngerasa gini lagi.

Rara: Itu wajar, Gun. Kalau kamu ngerasa ada yang bikin kamu lebih semangat, ya bagus.

Ada jeda. Beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang dari seharusnya. Ada senyum kecil yang dipaksakan di wajahnya, senyum yang hanya ia tahu artinya.

Gunawan: Menurut kamu aku harus gimana?

Rara: Jalanin pelan-pelan aja. Kenal dulu, jangan buru-buru. Yang penting kamu nyaman dan nggak maksa diri sendiri.

Gunawan terdiam, kata-kata Rara begitu menusuk dadanya. Ia tidak mengharapkan jawaban ini sebenarnya, tapi ia tahu Rara tidak mungkin menghalanginya.

Gunawan: Kamu baik banget sih, Ra.

Rara: Kamu pantas bahagia. Nikmatin aja prosesnya, jangan kebanyakan mikir kayak dulu.

Sungguh Gunawan menyesali idenya kali ini. Ia tidak ingin Rara berpikir namanya sudah tergantikan, tapi perbuatannya sendiri yang menjelaskan.

Sementara untuk Rara, kalimat terakhir itu seolah bercanda, ringan. Padahal ada doa yang diselipkan diam-diam di sana, doa yang ia ucapkan bukan untuk dirinya.

Rara meletakkan ponsel, menyandarkan kepala ke kursi. Dadanya masih terasa sesak, tapi ia memilih diam. Mendukung Gunawan adalah satu-satunya cara agar perasaannya tetap tersembunyi, rapi, dan tidak mengganggu persahabatan yang mereka bangun kembali. Rara menatap layar kosong beberapa saat, lalu tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia sudah memilih perannya menjadi teman yang mendukung, meski perasaannya sendiri harus tetap tinggal sebagai cerita yang tak pernah ia kirim.

Berbeda dengan Gunawan, ia mengingat ulang percakapan mereka. Setiap balasan Rara terasa terlalu tenang dan justru di situlah penyesalannya tumbuh.

Ra, aku nggak bener-bener lagi deket sama siapa pun. Aku nyesel cerita kayak gitu karena pengen tahu reaksi kamu. Dan sekarang aku ngerasa bodoh sendiri. "Gunawan menatap layar dengan napas pendek. Nama kontak Rara masih sama, "Sayaaang". Ia tidak pernah ada niat merubahnya.

Ia meletakkan ponsel perlahan. Penyesalan itu datang terlambat bukan karena kebohongannya terbongkar, tapi karena ia sadar Rara terlalu berharga untuk dijadikan ujian bagi perasaan yang belum selesai. Malam itu Gunawan tidak jadi mengirim pesan apa pun. Ia tahu, kalau satu kalimat saja keluar dalam kondisi seperti ini, semuanya bisa runtuh, persahabatan yang mereka rawat dengan susah payah, juga ketenangan Rara yang ia hancurkan diam-diam.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang