Part 89

13 3 0
                                        

Malam itu, setelah turun dari mobil Arga, Meli tidak langsung masuk rumah. Ia berdiri beberapa detik di teras, lalu akhirnya mengambil ponselnya.

Nama Gunawan terpampang di layar. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi. Akhirnya ia menekan tombol panggil.

"Kenapa, Neng? Mau ngajakin double date ya?" suara Gunawan terdengar santai seperti biasa.

Meli terkejut, matanya membulat sempurna "Aa cenayang ya?"

Gunawan terkekeh kecil. "Lah jadi bener? PJ nih ceritanya"

"Bukan." Meli menghela napas. "Aku masih kepikiran Rara."

Di ujung sana, Gunawan tidak langsung merespons. Bukan karena terkejut lebih seperti menunggu Meli menyelesaikan isi hatinya.

"Aku percaya Arga," lanjut Meli pelan. "Tapi ada bagian di aku yang pengen lihat sendiri. Pengin tahu aku bisa tenang atau nggak kalau mereka ada di satu meja. Tapi aku gak mau Arga mikir aku lagi ngetes dia."

"Jadi kamu minta aku yang lempar ide itu," tebak Gunawan.

Meli terdiam lagi. Itu jawaban yang terlalu tepat.

Gunawan menghembuskan napas pelan. "Neng."

"Iya?"

"Orang yang berani ngaku takut itu bukan insecure. Itu jujur."

Kalimat itu membuat Meli terdiam lebih lama.

"Tapi yaudah," lanjut Gunawan dengan nada lebih ringan. "Aku yang ajak. Biar kelihatannya spontan."

Meli hampir tertawa kecil. "Aa baik banget sih."

"Enggak," jawab Gunawan santai. "Aku cuma gak mau kamu kebanyakan mikir sendiri."

"Makasih Aa sayang." lalu panggilan di tutup.

Dua hari kemudian, Gunawan kembali bertemu dengan Arga di rumah sakit.

"Ga," panggilnya santai.

Arga menoleh. "Eh, Gun."

"Udah aman kan sama Meli?" Nada Gunawan sedikit menggoda

Arga terlihat sedikit malu. "Seperti yang kamu tahu."

Gunawan mengangguk ringan. "Meli udah lama cuma jadi nyamuk gue sama Rara, kayaknya mulai sekarang bisa jalan berempat."

Senyum tipis muncul di sudut bibir Arga. "Boleh," jawabnya tenang. "Kapan?"

Gunawan mengangguk puas. "Kalian bertiga aja yang atur jadwalnya. Klo gue kan flat jam kerjanya."

Arga mengangguk.

Setelah Gunawan memastikan Arga setuju, ia menemukan Rara sedang duduk di depan ruang Instalasi Farmasi. 

Gunawan duduk di sampingnya tanpa banyak suara. "Maaf ya nunggu lama."

Rara tersenyum kecil. "Enggak." Rara mengamati wajah Gunawan beberapa detik "Itu ide kamu... atau titipan?"

"Apa?" Gunawan mengernyit

"Double date."

Gunawan tertawa pendek. "Arga gercep juga."

"Jadi jawabannya?" 

Gunawan menatap Rara, "Kamu terlalu peka."

Rara menggeleng pelan. "Meli ya?"

Gunawan mengangguk sekali. Tidak berusaha menutupi.

Rara menghela napas panjang. Bukan kesal. Lebih seperti memahami. "Pasti karena aku" gumam Rara.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang