Part 83

28 3 3
                                        

Rara sudah menyinggung soal pertemuan dengan orangtuanya. Bagi Gunawan, itu bukan sekadar kalimat, itu lampu hijau yang menyala tanpa berkedip.

Kali ini ia tak ragu. Ia pulang, duduk berhadapan dengan orangtuanya, dan bercerita dengan suara yang tenang tapi mantap. Tentang Rara. Tentang niat. Tentang langkah yang tidak lagi setengah-setengah. Ia menyempatkan waktu walau hanya sebentar, karena ini soal masa depan hidupnya.

Gunawan duduk di ruang tengah lebih lama dari biasanya. Maminya sudah memperhatikan sejak tadi.

"Kok diem?" tanya mami akhirnya. "Ada yang mau kamu omongin?"

Gunawan menarik napas. "Ada. Penting."

Papi menurunkan korannya. "Tentang kerjaan?"

"Bukan." Gunawan menggeleng. "Tentang Rara."

Nama itu membuat ruangan sejenak hening.

"Kamu serius?" tanya mami, pelan tapi waspada.

"Iya," jawab Gunawan tanpa ragu. "Dan kali ini bukan cuma perasaan. Aku sudah sampai di tahap rencana."

Papi menyilangkan tangan. "Rencana seperti apa?"

Gunawan menegakkan duduknya. "Rara sudah bilang aku perlu bertemu orangtuanya. Itu bukan basa-basi. Itu tanda dia siap."

Mami menatapnya lama, sorotnya tajam tapi penuh hati-hati. "Maksudnya apa? Kok bisa tiba-tiba mau bertemu orangtuanya? Memangnya kalian kembali bersama?"

Gunawan menggeleng pelan. "Bukan 'kembali', Mi. Kami gak pernah benar-benar pergi. Cuma berhenti saling memaksa."

Mami terdiam.

"Aku gak datang sebagai orang yang menuntut dia jadi apa-apa," lanjut Gunawan. "Aku datang sebagai orang yang mau bertanggung jawab atas niatku. Kalau Rara minta aku bertemu orangtuanya, itu karena dia mau semuanya jelas. Gak ada abu-abu."

Papi ikut bersuara, tenang tapi dalam. "Dan kamu? Kamu siap kalau ternyata jalannya berat?"

Gunawan mengangguk.
"Siap, Pi. Aku gak minta dipercepat. Aku cuma minta diizinkan melangkah dengan benar."

Mami menghela napas panjang. "Kalau begitu," katanya akhirnya, "pastikan satu hal. Jangan buat Rara merasa harus kuat sendirian."

Gunawan menunduk sedikit. "Itu justru alasan aku mau datang, Mi. Biar dia tahu, kali ini aku gak berdiri di belakang tapi di samping."

Gunawan berhenti sebentar, lalu melanjutkan, lebih pelan.
"Aku bahkan sudah mulai bangun rumah. Bukan rumah besar, bukan yang mewah. Tapi rumah yang aku niatkan... untuk kami."

Mami terdiam cukup lama. Alisnya sedikit terangkat, bukan marah lebih ke kaget yang ditahan.
"Kamu bangun rumah bareng dia? Sejak kapan? Mami sama Papi kok rasanya ketinggalan jauh begini."

Gunawan menghela napas, lalu tersenyum kecil. "Bahkan Rara juga baru tahu kemarin Mi, Pi. Sejak ketemu waktu reuini, entah kenapa aku seyakin itu. Dari sana aku tahu, kalau aku serius, aku gak mau cuma main-main dan tanpa ujung kejelasan."

Papi melipat tangan. "Kenapa baru cerita sekarang?"

"Karena aku mau datang ke Mami Papi bukan sebagai anak yang lagi jatuh cinta," jawab Gunawan jujur. "Tapi sebagai orang yang sudah mikir panjang. Rumah itu aku mulai bangun waktu aku sadar, kalau aku terus nunda, aku cuma jadi orang yang berani bermimpi tapi takut tanggung jawab."

Mami menatapnya lama. Ada campur aduk antara khawatir dan haru. "Tanggapan Rara gimana?"

"Kaget" kata Gunawan pelan. "Dan dia gak pernah minta aku melakukan ini. Justru aku yang mau."

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang