Jakarta datang ke hidup Rara bukan sebagai mimpi besar, tapi sebagai keputusan yang tenang.
Surat penerimaan itu ia baca sendirian di kamar, sore hari. Rumah sakit swasta besar, namanya sering disebut dosen dulu tempat belajar, bukan sekadar bekerja. Rara menutup layar ponselnya, menatap cermin. Hijabnya tersemat rapi. Untuk sesaat ia terdiam, lalu tersenyum kecil. Bismillah.
Hari pertama bekerja, Jakarta terasa keras. Bangun sebelum subuh, perjalanan panjang, suara klakson yang tak sabar, wajah-wajah lelah di commuter line. Tapi begitu mengenakan jas putih bertuliskan Apoteker Dheandra, langkahnya jadi lebih mantap. Ia bukan gadis yang sedang mencari apa pun lagi, ia sedang menjadi.
Di instalasi farmasi rumah sakit, Rara banyak belajar. Tentang resep yang tak selalu rapi, dokter yang tergesa, perawat yang lelah, pasien yang kadang hanya butuh didengar. Ia belajar bahwa ilmu saja tak cukup, empati itu obat pertama. Ada hari-hari ia pulang dengan kaki pegal dan kepala penuh. Ada juga hari ketika seorang ibu pasien menggenggam tangannya sambil berkata lirih, "Terima kasih ya, Mbak. Penjelasannya bikin saya tenang."
Malam-malam Jakarta sunyi justru jadi ruang paling jujur untuk Rara. Di kamar kos kecilnya, ia menata ulang hidup. Tidak ada lagi chat panjang yang menggantung, tidak ada menunggu balasan siapa pun. Sesekali nama Gunawan muncul di cerita teman, di ingatan tapi kini rasanya berbeda. Tidak perih. Tidak juga hangat. Hanya... selesai dengan baik.
Orang tuanya sering menelepon. Mamanya selalu bertanya, "Capek, Nak?", Rara akan menjawab, jujur tapi ringan, "Capek, Ma. Tapi Alhamdulillah, aku senang."
Beberapa rekan kerja mulai dekat. Ada yang sekadar rekan jaga, ada yang mencoba lebih. Rara tidak menutup diri, tapi juga tidak terburu-buru. Ia sudah belajar bahagia tidak harus segera ditemani siapa-siapa.
Jakarta mengajarinya banyak hal, tentang mandiri, tentang batas, tentang memilih diri sendiri tanpa harus menjelaskan ke siapa pun. Dan di salah satu sore, saat matahari jatuh di balik gedung rumah sakit, Rara berdiri di jendela lantai atas, menatap lalu lintas yang padat.
Ia tersenyum kecil. Bukan karena hidupnya sempurna. Tapi karena akhirnya, ia berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang.
Namanya Arga.
Rara pertama kali menyadarinya bukan karena rupa atau kata-kata manis, tapi karena ketenangan. Arga adalah dokter anestesi. Tidak banyak bicara, suaranya selalu rendah, geraknya efisien. Mereka sering bertemu di jam-jam ganjil, subuh menjelang pagi, atau sore ketika langit Jakarta mulai abu-abu.
Arga tidak pernah memanggil Rara dengan nada menggoda. Tidak pernah menatap terlalu lama. Tapi setiap kali ada obat yang perlu dikonfirmasi, ia selalu bertanya dengan jelas, sabar, dan... menghargai. "Ini aman kalau dosisnya segini?" atau "Kalau menurut Mbak Rara, lebih baik yang mana?"
Bukan karena ia tidak tahu. Tapi karena ia memberi ruang. Rara baru sadar bedanya suatu sore, ketika ia kelelahan setelah shift panjang. Di ruang istirahat, ia duduk memijat pelipis. Arga lewat, berhenti sebentar, "Kamu belum makan?". Rara menggeleng. Arga mengangguk, lalu pergi. Lima belas menit kemudian, sebungkus roti dan teh hangat tergeletak di mejanya. Tidak ada pesan panjang. Hanya secarik kertas kecil,
Jangan pingsan di jam jaga. Jakarta kejam sama orang baik.
Rara tersenyum bukan senyum gugup, tapi senyum yang tenang. Tidak ada degup berlebihan. Tidak ada rasa takut kehilangan. Yang ada justru rasa aman yang asing.
Arga tidak menanyakan masa lalu Rara. Tidak penasaran berlebihan. Tidak ingin tahu siapa yang pernah ia tunggu, siapa yang pernah ia lepaskan. Ia hanya bertanya tentang hari ini. "Capeknya di bagian mana?" atau "Besok jaga pagi atau malam?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
