Part 48

22 1 0
                                        

Malam itu kamar Rara terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu belajar menyala redup, membiarkan bayangannya jatuh panjang di dinding. Buku-buku mata pelajaran terbuka, tapi tak satu pun yang benar-benar masuk ke kepalanya.

Rara menangkup wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengusapnya pelan. Napasnya bergetar.

Bayangan Bu Mira yang memintanya menjaga jarak sementara dari Gunawan selalu menghiasi pikirannya. Tidak siang tidak malam, apalagi saat dirinya sendiri di rumah. Rara tentu mengerti. Ia bukan anak kecil. Ia tahu apa yang dipertaruhkan. Tapi mengerti bukan berarti mudah. Dan yang lebih berat, Rara harus menyimpan ini sendirian. Ya memang ini pilihan Rara, karena ia tidak mau membebani teman-temannya. Yang paling penting Rara tidak mau mereka menyampaikan hal ini kepada Gunawan.

Kini, ketika semuanya sunyi, Rara merasa permintaan itu mulai menekan dadanya.

Aku kenapa sih..." bisiknya pada dirinya sendiri.

Ia meraih ponselnya. Layar menyala menunjukkan chat dari Gunawan yang menurutnya selalu sama, perhatian. Rara berharap Gunawan tidak menyadari perubahan yang Rara ciptakan. Tapi Rara salah, Gunawan dan Meli ternyata sangat menyadari perubahan Rara.

Gunawan menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit. Ada rasa rindu yang menguar, samar tapi menusuk. Ia merindukan Dheanya, suaranya yang ceria, tatapan matanya yang berbinar, senyum manisnya. Gunawan merindukan kenyamanan yang beberapa hari ini tidak ia temui. Gunawan tidak tahan, tapi ia tidak mau membuat Rara tersinggung.

Keesokan harinya, di sela istirahat kedua, Rara duduk di bangku taman kecil dekat perpustakaan. Buku catatan terbuka di pangkuannya, namun dari tadi ia hanya membolak-balik halaman tanpa benar-benar membaca. Pandangannya kosong. Gunawan sedang berkumpul bersama tim olimpiade, temannya yang lain entah dimana.

Meli, yang baru keluar dari koperasi, memperhatikan itu dari jauh. Rara biasanya akan melambai atau minimal tersenyum begitu melihatnya. Tapi hari ini, Rara hanya mengangkat wajah sebentar lalu tersenyum tipis, tipis sekali seolah hanya formalitas. Meli mengernyit. Itu jelas bukan Rara yang ia kenal.

Meli mendekat dan duduk di sebelah Rara tanpa banyak bicara. "Kenapa?"

Rara tersentak kecil. "Hah? Enggak, enggak apa-apa."

Ra "Meli melipat tangan di dada. "Setahun belakangan kita selalu sama-sama ya, bohong kalau aku gak kenal gerak-gerik kamu."

Rara mengembuskan napas. "Aman Mel."

Meli menyenggol lengannya. "Boleh aku tebak?"

Rara diam. Ia menunduk, memainkan ujung buku catatannya. Ada jeda panjang.

Ini soal Aa, ya? "tanya Meli akhirnya, pelan. Tidak menghakimi.

Rara terkejut sebentar, lalu kembali menunduk. "Bukan, lebih ke aku."

Meli menggeser duduknya, kini menghadap Rara sepenuhnya. "Aku ikut pulang kerumah kamu ya". Hanya itu yang Meli ucapkan, ia tahu Rara tidak akan terbuka disini. 

Rara menggigit bibir. Ada rasa ingin cerita, tapi juga takut membuka semuanya. Rara hanya mengangguk. Memang itu yang sebenarnya ia butuhkan. Putri dan Nabila mungkin belum sepeka Meli untuk masalah ini.

Rara sudah berdiri, tasnya diangkat, seperti mau lari.

Kamu langsung pulang? "tanya Gunawan. Suaranya pelan, ada nada ingin menahan karena ini satu-satunya waktu ia tidak terlalu sibuk hari itu.

Iya. Aku mau pulang bareng Meli "Rara menghindari tatapan Gunawan, padahal biasanya justru menunggu momen seperti ini untuk ngobrol lebih lama.

Gunawan mengerutkan kening. "Kalian ada kumpul?". Rara mengangguk ragu dan berharap semoga Meli bisa diajak kompromi nanti.

Hmmm.... padahal hari ini aku latihannya agak telat, setengah jam, pengennya bisa ngobrol dulu sama kamu "ucap Gunawan berharap Rara mengerti

Rara menggigit bibir bawahnya, ragu hanya satu detik, lalu kembali menguatkan diri. "Tapi kita juga ditunggu sama yang lain, gak enak."

Gunawan menahan napas "hmmm... ya udah. Kalau kumpulnya sebentar kabarin ya, aku nunggu disini"

Rara tersenyum tipis "Kamu langsung ke ruang latihan aja, takutnya aku lama"

Gunawan membuka mulut, ingin membantah, tapi Rara lebih cepat.

Aku duluan ya, nanti aku kabarin kalau udah dirumah. Semangat latihannya "nada suaranya dibuat ringan, tapi langkahnya terlalu cepat, terlalu gugup.

Gunawan hanya bisa menatap punggung Rara yang menjauh. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang belum dia pahami tapi seperti jelas Rara sedang menjauh.

Gunawan menunduk, mengembuskan napas panjang. "Kenapa harus begini, bahkan ketika aku punya waktu luang."

Sementara itu, di luar gerbang, Rara merapatkan pegangan tas. "Maaf" gumamnya. Dan lagi-lagi Meli menyadari hal itu.

Di sudut taman belakang sekolah, Gunawan duduk sendirian di bangku panjang dengan tas masih disandang, tangan meremas botol minum plastik setengah kosong. Dari kejauhan, Putri dan Nia yang baru keluar dari toilet melambatkan langkah ketika melihatnya.

Eh... itu Gun," bisik Nia sambil mengerutkan dahi. "Sejak kapan dia bengong kayak gitu?"

Putri menyipitkan mata, memperhatikan lebih seksama. "Belakangan ini Gunawan keliatan agak murung gak sih"

Mereka saling pandang sebelum memutuskan mendekat.

Gun?" Putri memanggil pelan

Gunawan tersentak kecil, seolah baru sadar ada orang. "Eh... Putri, Nia."

Kamu kenapa? Ada masalah? Gak biasanya aku lihat kamu begini "tanya Nia penasaran

Gunawan menghembuskan napas, menunduk. "Nggak. Enggak apa-apa."

Putri maju setengah langkah, nadanya lebih hati-hati. "Ini tentang Rara, ya?"

Sebuah jeda panjang tercipta. Gunawan tidak langsung menoleh, tapi jemarinya yang memutar tutup botol minum berhenti. Nia dan Putri saling melirik, menebak mereka tepat sasaran.

Gunawan akhirnya mendongak, seperti bingung dan capek. "Aku nggak tahu, Put, Ni. Dia baik-baik aja di chat, tapi kalau ketemu beda. Kayak ada tembok."

Putri menarik napas panjang. "Gun, kamu yakin kalian nggak salah paham?"

Gunawan menggeleng pelan. "Aku nggak tahu Put. Aku merasa kita baik-baik aja, apalagi setelah dia sakit. Aku takut ada hal yang dia nggak mau bilang."

Nia duduk di samping Gunawan "Kamu gak coba tanya?"

Gunawan mengusap wajahnya. "Aku takut dia tersinggung. Mungkin karena aku kangen jadi merasa dia berjarak ya."

Putri tersenyum simpul, sedikit iba. "Ya ampun Gun. kalau gitu tinggal bilang aja ke Rara kalau kamu kangen."

Gunawan terdiam, lalu menggeleng, lirih. "Selalu Put, tapi sikapnya terasa asing buat aku. Senyumnya seperti dipaksakan, bahkan lihat mata aku juga dia kayak enggan"

Putri dan Nia saling menatap keduanya berpikir sama. Ada sesuatu yang disembunyikan Rara.

Mudah-mudahan semuanya aman aja ya Gun "sahut Putri tidak yakin.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang