Part 80

21 3 0
                                        

Perjalanan ke Bandung terasa seperti liburan singkat. Meli duduk di kursi belakang, sibuk memotret pemandangan dari jendela, sementara Rara duduk di samping Gunawa, sudah tentu Meli yang memintanya.

"Sudah ijin Arga?" tanya Gunawan

Rara menoleh cepat. "Ijin? Untuk apa?"

"Loh bukannya kamu yang cerita tentang aku" sahut Gunawan cepat

Meli langsung berhenti memotret. Ponselnya turun perlahan, matanya berbinar—mode siap menggoreng aktif.

"HAH?" katanya lebay. "Ini menarik."

Rara menoleh ke Meli, lalu kembali ke Gunawan. "Aku cerita kamu sebagai... teman," jawabnya cepat, tapi nada suaranya tak sepenuhnya yakin.

Gunawan mengangguk pelan, pura-pura santai. "Masa?"

"Eh," Meli menyela, mencondongkan badan ke depan di antara kursi. "Teman yang mana dulu nih? Teman lama, teman dekat, atau teman yang 'nggak usah dijelasin'?"

"Mel," Rara mendesis.

Meli terkekeh puas. "Aku cuma klarifikasi."

Gunawan menahan senyum. "Arga sendiri yang bilang sama aku."

Rara menghela napas. "Iya, waktu aku nolak dia."

"Bagus," jawab Meli ringan. "Berarti masih bebas." Meli langsung memukul sandaran kursi pelan. "CATAT. Masih bebas."

Rara menutup wajahnya sesaat. "Kenapa aku harus bareng kalian sih."

Gunawan tertawa kecil, lalu menatap jalan lagi. "Tenang. Aku nggak kegeeran kok."

Meli mendengus. "Belum."

Rara melirik ke samping. "Kalian kompak banget nyusahin aku."

Meli tertawa, lalu menyandarkan punggung lagi. "Tapi jujur ya, Ra," katanya, nadanya tiba-tiba lebih lembut, "kalau kamu nggak nyaman, kamu pasti nggak duduk di situ."

Rara terdiam. Ia menurunkan tangannya perlahan, menatap jalan di depan. "Aku nyaman," katanya singkat. "Makanya ribet."

Gunawan mengangguk kecil, seolah mengerti. Ia tak menimpali, membiarkan kalimat itu tinggal apa adanya.

Meli langsung tegak. "Tunggu," katanya, nada suaranya berubah serius. "Kamu nolak Arga?"

Rara mengangguk pelan. "Iya."

"Dan—" Meli melirik ke depan, ke arah Gunawan, lalu kembali ke Rara, "kenapa harus bawa nama Aa?"

Gunawan tetap menatap jalan, tapi jelas mendengarkan. Tangannya sedikit mengencang di setir.

Rara menarik napas panjang, seperti sudah siap dengan pertanyaan itu. "Karena Arga butuh alasan yang jujur," katanya pelan. "Dan karena... saat itu, nama yang paling masuk akal ya Gunawan."

Meli mengernyit. "Masuk akal gimana?"

"Karena aku nggak mau kasih harapan palsu," jawab Rara. "Aku bilang ada orang yang masih aku pertimbangkan. Orang yang... belum selesai di kepalaku."

Mobil hening beberapa detik.

"Diem, jangan terbang." tunjuknya pada Gunawan

Gunawan akhirnya bicara, suaranya tenang tapi tertahan. "Kamu nggak perlu bawa nama aku sebenarnya."

"Aku tahu," Rara menoleh ke arahnya. "Tapi aku juga nggak mau bohong."

Meli menyandarkan punggung, menatap langit-langit mobil. "Oke," katanya pelan. "Itu jawabannya."

Ia lalu menoleh lagi ke Rara. "Jadi bukan karena kasihan. Bukan karena bingung. Tapi karena kamu tahu perasaanmu masih nyangkut."

Rara mengangguk. "Iya."

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang