Part 44

32 4 0
                                        

Malam itu, setelah belajar sebentar untuk materi besok, Rara meringkuk di tempat tidur sambil memegangi perutnya. Sudah beberapa hari ia merasa tidak enak, tapi ia pikir hanya masuk angin atau kecapean. Ia tetap makan seperti biasa bahkan lebih sering makan pedas bersama Putri dan Meli untuk mengalihkan pikirannya dari kesibukan Gunawan. Namun malam ini rasanya berbeda. Lebih tajam, menusuk sampai ke punggung.

Rara mencoba menahan, tapi semakin lama napasnya makin pendek dan keringat dingin membasahi keningnya. 

Papanya yang kebetulan masuk ke kamarnya langsung panik melihat wajah Rara memucat. "Sayang! Kok kamu keringetan gitu, kenapa?"

Rara hanya menggeleng lemah, suaranya gemetar, "Perut aku sakit banget Pa"

Papanya langsung membawa Rara menuju mobil untuk dibawa ke rumah sakit.

Di rumah sakit Rara segera ditangani. Rara segera diinfus dan diberi obat.

Lambungnya iritasi cukup parah dok. Kemungkinan karena konsumsi makanan asam dan pedas berlebihan, juga stres "jelas dokter Rangga rekan sejawat Papanya

Rara segera dipindahkan ke kamar rawat. Rara harus menjalani rawat inap selama beberapa hari untuk memastikan kondisinya benar-benar pulih.

Rara menatap layar kosong beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan wajah.
"Dia pasti sibuk," gumamnya pelan. "Gak usah ngabarin dulu"

Tapi air matanya tetap lolos juga, jatuh tanpa suara.

Sementara di rumahnya, Gunawan baru saja selesai dengan buku-bukunya. Ponselnya tergeletak di meja, layarnya mati sejak dua jam terakhir. Gunawan mengangkat ponsel, sekilas melihat notifikasi grup, tapi tidak ada chat dari Rara. Ia menghela napas, melihat jam di ponselnya kemungkinan Rara sudah tidur.

Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumah sakit.

Pukul enam pagi, Putri yang sudah mendapat kabar dari orangtua Rara, akhirnya memberi tahu Gunawan. Setelah siap untuk berangkat sekolah, Gunawan berniat mengabari Rara. Ia meraih ponsel yang sejak semalam mati layar. Saat disentuh, ponsel menyala dan deretan notifikasi masuk. Gunawan mengusap wajahnya yang masih berat, kemudian membuka pesan WhatsApp. Pesan paling atas membuat jantungnya langsung berhenti berdetak.

 Pesan paling atas membuat jantungnya langsung berhenti berdetak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ia membaca ulang pesan itu, berharap ada kesalahan. Harapannya sia-sia. Tangannya gemetar saat mengetik balasan. Untuk beberapa detik, dunia Gunawan seperti berhenti. Napasnya tercekat. Pikirannya langsung terlempar pada adegan terakhir ketika mereka bertemu Rara yang tertawa kecil, mencoba santai, bilang "Aku baik-baik aja kok." Dan bodohnya ia benar-benar percaya.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti seabad, ia akhirnya mengetik pesan untuk kekasihnya.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti seabad, ia akhirnya mengetik pesan untuk kekasihnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang