Gunawan dan Arga tidak sengaja bertemu di lorong rumah sakit. Gunawan sedang menunggu Rara dan Arga kebetulan lewat. Mereka saling sapa, lalu beberapa menit mereka bicara soal lalu lintas Jakarta.
Lalu tiba-tiba Gunawan bertanya, seolah-olah topiknya hanya kebetulan lewat. "Lo akhir-akhir ini sering komunikasi sama Meli?"
Mereka memang sudah terlihat akrab walaupun tidak pernah intens bertemu.
Arga tidak langsung menjawab. Terlalu cepat akan terlihat mencurigakan. Terlalu lambat akan terlihat menghindar. "Ya... biasa aja."
Gunawan mengangguk pelan. "Biasa itu relatif."
Arga akhirnya menatapnya. "Maksud lo?"
"Gue cuma mau pastiin satu hal." Nada suara Gunawan tetap tenang.
Arga diam, menunggu.
"Kalau lo lagi dalam proses melihat Meli dengan cara yang beda... pastiin itu bukan karena lo udah nggak bisa lihat Rara lagi." Langsung. Tanpa berputar.
Arga terdiam. Bukan karena tersinggung. Tapi karena kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia akui.
Gunawan melanjutkan, lebih pelan. "Meli itu kuat. Tapi dia bukan tipe yang gampang bangkit kalau jatuh di tempat yang sama."
Ada jeda.
"Gue nggak ngelarang. Gue nggak intervensi. Tapi kalau lo masuk... masuknya jangan setengah-setengah."
Arga menunduk sebentar, menghela napas. "Gue nggak pernah lihat dia sebagai pelarian." Itu jawaban pertama yang keluar. Refleks.
Gunawan menatapnya, menilai bukan kata-katanya, tapi nada suaranya.
Arga melanjutkan, lebih pelan. "Dan kalau pun ini... apa pun namanya... gue nggak mau ngerusak dia." Kalimat itu jujur. Tanpa pembelaan berlebihan.
Gunawan tersenyum tipis. "Bagus." Ia menepuk bahu Arga sekali. "Karena kalau lo sampai bikin dia ngerasa jadi pilihan kedua, gue yang pertama berdiri di depan lo."
Arga mengangguk. Ia tidak merasa terintimidasi. Justru... ia merasa diuji. Itu soal tanggung jawab.
Sore itu rumah Deni terasa lebih tenang dari biasanya. Meli duduk di meja makan, pura-pura fokus dengan laptopnya. Tapi layar itu sudah lima menit menampilkan halaman yang sama.
Gunawan keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir teh. Satu diletakkan di depan Meli. "Gratis, nggak usah bayar," ujarnya santai.
Meli melirik, tersenyum tipis. "Tumben baik."
"Aku selalu baik."
"Enggak juga."
Gunawan duduk di hadapannya. Tidak langsung bicara. Ia hanya mengaduk tehnya pelan. Lalu, tanpa melihat Meli, ia bertanya ringan "Kamu lagi ngindarin apa?"
Sendok di tangan Meli berhenti. "Hah? Nggak ngindarin apa-apa."
Gunawan mengangguk kecil. "Biasanya kalau kamu bohong, nada kamu naik setengah."
Meli mendesah pelan. "A..."
Gunawan akhirnya menatapnya. Tatapannya tidak menekan. "Kamu pikir aku nggak lihat perubahan kamu?"
Meli menunduk. Menggeser cangkirnya tanpa diminum. "Perubahan apa sih?"
"Kamu jadi lebih diam. Tapi bukan diam yang kesel." Gunawan menyender. "Diam yang mikir."
Sunyi beberapa detik.
Akhirnya Meli berbicara pelan. "Menurut Aa... orang bisa nggak sih tiba-tiba melihat orang yang selama ini biasa aja... jadi beda?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
