Part 100

31 2 2
                                        

Satu tahun kemudian.

Pagi di rumah itu tidak lagi sesunyi dulu. Ada suara kecil yang lebih dulu bangun sebelum matahari benar-benar tinggi. Tangisan pelan, disusul ocehan yang belum jelas arti katanya tapi cukup untuk mengisi setiap sudut rumah dengan kehidupan.

Rara duduk di tepi tempat tidur, menggendong bayi mereka yang baru saja terbangun. Tangannya mengayun pelan, naluriah. Wajahnya terlihat berbeda sekarang lebih lembut, tapi juga lebih kuat.

"Shh... iya, bangun ya..." bisiknya pelan sambil tersenyum.

Pintu kamar terbuka pelan.

Gunawan muncul dengan rambut sedikit berantakan, kaos seadanya, tapi senyumnya langsung terukir begitu melihat pemandangan di depannya.

"Udah bangun duluan?" tanyanya pelan.

Rara menoleh. "Iya... dari tadi."

Gunawan mendekat, berdiri di samping Rara, lalu menatap bayi kecil di pelukannya. Ada cara berbeda ia memandang sekarang lebih hati-hati, lebih dalam.

"Mirip kamu," gumamnya.

Rara tersenyum. "Kemarin juga kamu bilang mirip kamu."

Gunawan mengangkat bahu. "Ya berarti kita berdua."

Rara tertawa kecil.

Bayi itu mulai tenang, matanya setengah terbuka, seolah mencoba mengenali dua wajah yang selalu ada untuknya.

Gunawan mengulurkan tangan. "Sini... gantian."

Rara menyerahkan dengan hati-hati. Gerakan yang dulu terasa asing, sekarang sudah jadi kebiasaan yang penuh percaya.

Gunawan menggendong bayi itu dengan cukup yakin. "Pagi sayang..." sapanya pelan, suaranya otomatis melembut.

Rara memperhatikan mereka. Tatapannya hangat... dan penuh.

"Gun..." panggilnya pelan.

Gunawan menoleh. "Hm?"

Rara tersenyum tipis. "Makasih ya."

Gunawan sedikit mengernyit. "Loh... kenapa tiba-tiba?"

Rara menarik napas pelan. "Untuk satu tahun ini. Untuk semuanya. Untuk tetap jadi tempat pulang... walaupun kita sama-sama capek, sama-sama belajar."

Gunawan diam sebentar, lalu tersenyum. "Aku juga mau bilang itu," jawabnya pelan. "Makasih... udah jadi rumah yang beneran."

Rara menunduk sebentar, menahan haru, lalu mengangkat wajah lagi. "Dulu kita belajar jadi pasangan..." katanya pelan.

Gunawan mengangguk. "Sekarang... belajar jadi orang tua."

Bayi kecil di gendongan Gunawan tiba-tiba mengeluarkan suara kecil, seperti protes halus karena diabaikan dari percakapan serius itu. Mereka berdua langsung tertawa.

Gunawan menggoyang pelan. "Iya, iya... kamu juga bagian dari ini."

Rara berdiri, mendekat, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Gunawan.

"Capek gak?" tanya Gunawan pelan.

Rara menggeleng. "Capek... tapi bahagia."

Gunawan tersenyum. "Sama."

Pagi itu terasa ramai, sedikit berantakan, tapi penuh. Tidak lagi hanya tentang mereka berdua. Tapi tentang keluarga kecil yang mereka bangun dari perjalanan panjang, dari pilihan untuk tetap bertahan, sampai akhirnya tumbuh menjadi kebahagiaan yang nyata.

Kalau dipikir-pikir, kisah mereka tidak pernah benar-benar sederhana.

Dimulai dari dua anak SMP yang bahkan belum benar-benar paham arti cinta. Hanya tahu... nyaman. Hanya tahu... ingin selalu dekat. Tapi justru di usia itu, mereka sudah belajar satu hal yang tidak mudah, bahwa perasaan saja tidak selalu cukup. Ada aturan, ada batasan, ada "dunia luar" yang memisahkan mereka, bahkan sebelum mereka sempat memperjuangkan apa-apa.

Mereka berpisah dengan cara yang terasa terlalu menyakitkan untuk sesuatu yang disebut "cinta monyet".

Lalu waktu membawa mereka bertemu lagi di SMA.

Kali ini berbeda. Lebih dewasa, lebih berani, dan akhirnya... mereka sempat benar-benar bersama. Walau harus menghadapi kenyataan kalau sahabt sendiri bisa menjadi penghalang. Bahkan mata pelajaran dan guru pun menjadi kerikil buat mereka. Tapi mereka akhirnya bisa mencintai tanpa harus sembunyi-sembunyi, menjalani hari-hari yang dulu hanya bisa dibayangkan. Tapi lagi-lagi, hidup tidak pernah memberi jalan yang lurus.

Jarak datang.

Dan yang lebih berat dari jarak adalah rasa yang tidak dikelola dengan baik. Kepercayaan yang sempat goyah. Ego yang tidak sempat diturunkan. Hingga pada akhirnya, mereka kembali kehilangan bukan karena tidak cinta, tapi karena tidak tahu bagaimana menjaga cinta itu tetap utuh.

Mereka berjalan sendiri-sendiri selama bertahun-tahun. Dengan hidup masing-masing. Dengan cerita masing-masing. Tapi ada satu hal yang diam-diam tidak pernah berubah, hati mereka.

Sampai akhirnya, sebuah momen sederhana bernama REUNI mempertemukan mereka lagi. Bukan sebagai dua remaja yang belum tahu apa-apa. Tapi sebagai dua orang yang sudah jatuh, sudah belajar, dan diam-diam masih membawa rasa yang sama.

Kali ini, mereka tidak terburu-buru.

Mereka saling mengenal lagi. Saling menyembuhkan. Saling memastikan bahwa yang dulu sempat hilang, sekarang ingin benar-benar dijaga.

Perjalanan mereka tidak mulus. Selalu ada kerikil kecil yang menguji. Tapi bedanya, kali ini mereka tidak lagi berjalan sendiri. Mereka memilih untuk tetap tinggal, bahkan saat keadaan tidak mudah.

Dan pada akhirnya...

Mereka sampai di satu titik yang dulu terasa mustahil. Bukan sekadar kembali bersama. Tapi saling memilih... dengan sadar.

Diucapkan dalam satu kata yang sederhana, tapi penuh makna:

Sah.

Menjadi suami dan istri.

Bukan karena perjalanan mereka tanpa luka. Justru karena mereka pernah hancur, pernah kehilangan, dan tetap menemukan jalan untuk kembali.

Kisah mereka bukan tentang cinta yang sempurna. Tapi tentang cinta yang bertahan. Tentang dua orang yang, sejauh apa pun sempat terpisah, pada akhirnya tetap pulang... ke satu sama lain.

Pada akhirnya, kalau harus dirangkum dalam satu kalimat, mungkin kisah mereka hanya tentang satu hal:

TETAP MENUNGGU

Bukan menunggu dalam arti diam tanpa arah. Bukan juga menunggu dengan harapan yang dipaksakan. Tapi menunggu dengan cara mereka masing-masing.

Menunggu dalam diam saat SMP, ketika perasaan harus berhenti sebelum sempat tumbuh.
Menunggu dalam jarak saat SMA selesai, ketika cinta akhirnya ada, tapi belum cukup kuat untuk bertahan.
Menunggu dalam kehilangan, saat mereka berjalan sendiri-sendiri, mencoba hidup tanpa satu sama lain meski hati tidak pernah benar-benar pindah.

Mereka tidak saling menggenggam selama itu. Bahkan sempat saling melepaskan. Tapi anehnya, tidak pernah benar-benar pergi.

Waktu boleh membawa mereka jauh. Keadaan boleh memisahkan. Kesalahan boleh menjauhkan. Tapi ada satu hal yang tetap tinggal, rasa yang tidak berubah dan hati yang diam-diam tetap menunggu.

Sampai akhirnya, semesta mempertemukan mereka kembali bukan di waktu yang salah, bukan di versi diri yang belum siap. Tapi di saat mereka sudah mengerti satu hal penting, bahwa menunggu bukan tentang siapa yang lebih dulu datang, tapi tentang siapa yang tetap ada ketika semuanya sudah berlalu.

Dan di hari itu, saat mereka mengucap janji di depan semua orang, penantian panjang itu akhirnya punya arti. Bukan lagi tentang rindu yang tertahan. Bukan lagi tentang "hampir". Tapi tentang kepastian. Bahwa selama ini, tanpa banyak kata, tanpa saling tahu mereka berdua

tetap menunggu untuk kembali ke satu sama lain.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang