Part 47

30 3 4
                                        

Jam pelajaran selesai, semua murid bergembira. Setelah itu ada yang masih harus berkegiatan di sekolah seperti Gunawan dan teman-temannya yang terpilih seleksi olimpiade. Ada juga yang langsung pulang ke rumah. Seperti Rara yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah. Tapi langkahnya terhenti ketika tepat didepan ruang guru, Bu Mira, guru pembina Olimpiade, berdiri di sana dengan wajah serius.

Rara, ikut Ibu sebentar ya "tidak hanya Rara, tapi Putri, Meli, Nia dan Faul yang mendengarnya pun bergidik ngeri. Seketika Putri dan yang lain saling pandang khawatir.

Rara mengangguk pelan dan mengikuti Bu Mira. Ruangan itu sepi. Hanya suara kipas yang berputar pelan. Bu Mira membawa Rara ke ruang konseling.

Duduk, Rara," ucap Bu Mira sambil menutup pintu.

Rara duduk pelan. "Ada apa ya, Bu?"

Bu Mira menarik napas panjang sebelum berbicara "Rara, Ibu dengar kamu baru sembuh dari rawat inap."

Iya, Bu "jawab Rara mencoba tenang, ia tak bisa menebak kemana arah pembicaraan gurunya ini

Bu Mira mengangguk. "Ibu ikut senang. Tapi justru karena itu, Ibu mau membicarakan hal penting. Ini bukan tentang kesehatanmu saja tapi juga tentang Gunawan."

Rara langsung menegang. "Gunawan?"

Bu Mira menatapnya lekat-lekat. "Rara, kamu tahu Gunawan sedang menjalani satu tanggung jawab berat, Olimpiade. Tekanannya tinggi. Dia anak yang luar biasa sampai hampir semua seleksi olimpiade ada namanya. Tapi kemarin ibu dengar dia ijin tidak mengikuti latihan karena harus menjenguk temannya." 

Rara menunduk, jari-jarinya langsung meremas rok. Hatinya sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.

Bu Mira melanjutkan dengan lembut, tidak menghakimi, justru penuh kehati-hatian. "Ibu pikir kalau hanya teman kenapa dia harus sampai meninggalkan latihannya. Dia perhatian sekali padamu. Kalian saling menyayangi, Ibu tahu."

Rara terdiam. Napasnya terasa menggantung.

Tapi untuk beberapa minggu ke depan sampai Olimpiade selesai, Ibu ingin kamu sedikit menjaga jarak. Bukan memutus hubungan. Bukan menjauh total. Hanya memberi ruang agar dia fokus dulu "Rara menatap pangkuannya lama sekali. Ada rasa perih, seperti seseorang menarik sesuatu dari dalam dadanya.

Maaf Bu, tapi selama ini saya sudah berusaha gak ganggu dia. Soal ijin kemarin, saya minta maaf karena saya tidak tahu sebelumnya "Rara berani menatap Bu Mira walaupun sebentar

Ibu tahu "jawab Bu Mira lembut. "Justru karena itu Ibu bicara denganmu. Ibu yakin kamu anak yang mengerti, Ibu hanya ingin Gunawan lebih fokus saja, tolong bantu Ibu"

Rara menggigit bibir untuk menahan suara yang hampir pecah.

Ini bukan menyalahkan siapa pun. Ini keputusan kami sebagai pembina "Bu Mira berbicara lebih tegas kali ini.

Hening. Rara mengangguk pelan, tapi tatapannya kosong. "Baik, Bu" 

Rara..." Bu Mira memanggilnya lembut. "Kamu anak baik. Dan hubungan kalian bukan masalah. Ibu hanya ingin memastikan keduanya tidak terbebani. Tolong jangan beritahu Gunawan soal ini ya"

Rara memaksakan senyum kecil yang tidak stabil. "Saya ngerti, Bu."

Begitu pintu tertutup di belakangnya, Rara berhenti sejenak di koridor. Bahu yang tadinya tegak, jatuh pelan. Ia tidak menangis. Tapi wajahnya tampak datar, seperti seseorang yang sedang menahan seluruh emosinya agar tidak pecah di tengah keramaian. Untung saja tadi Rara meminta teman-temannya tidak menunggunya.

Rara berjalan menuju parkiran, langkahnya lebih lambat. Hatinya berat. Karena yang diminta Bu Mira bukan hal sepele. Ia seperti flashback ke 2 tahun yang lalu. Baru saja kemarin Gunawan bilang "Kalau pembina yang bilang baru kamu boleh percaya", dan itu terjadi sekarang, tepat didepan matanya. Diminta menjauh dari seseorang yang ia sayangi demi kebaikan orang itu. Sakit, tapi Rara tidak bisa membantah.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang