Part 65

17 2 0
                                        

Meli sudah dua hari dirawat di salah satu rumah sakit karena tifoid. Rara baru saja keluar dari kamar mandi saat pintu ruangan terbuka. Gunawan muncul tanpa peringatan, seperti hujan yang sama sekali tidak ia duga.

Rara berhenti melangkah. Tubuhnya kaku beberapa detik, pandangan mereka bertemu.

Rara, "suara Gunawan terdengar terkejut. 

Rara tersenyum kaku. "Gun"

Aku yang sakit ya, kok gak di sapa, "kata Meli memecah kecanggungan diantara dua insan yang pernah saling tertaut.

Rara dan Gunawan menoleh refleks. 

Oh "hanya itu yang keluar dari mulut Gunawan.

Rara membiarkan mereka berbicara satu sama lain, ia lebih memilih duduk di sofa. Tidak mendengarkan, tapi obrolan mereka jelas terdengar.

Ra, kamu dianter Aa aja ya "kalimat itu membuat jantung Rara berdetak lebih cepat

"Aku—" Gunawan berhenti sejenak. "Aku bisa anter kamu pulang. Kalau kamu mau."

Rara terdiam. Ia bisa menolak. Sangat bisa. Tapi ia tahu, di luar hujan semakin deras, dan jarak itu terasa semakin rapuh.

Kamu kan gak bawa mobil, "tambah Meli. "Supir kamu juga lagi jauh."

Merasa tidak sopan, Rara akhirnya mendekat ke ranjang sebelah Meli. Rara tidak menjawab, hanya tatapan pasrah yang ia berikan kepada Meli. Gunawan mengerti, ia berjalan lebih dulu. Mereka berdiri canggung, terlalu dekat untuk pura-pura asing, terlalu jauh untuk disebut akrab.

Di dalam mobil, tidak ada musik. Hanya suara hujan dan napas yang ditahan.

Makasih "ucap Rara pelan.

Iya "jawab Gunawan. "Sama-sama."

Mobil melaju pelan. Tidak ada percakapan, sangat canggung. Isi kepala mereka penuh. Gunawan memikirkan untuk mulai percakapan, tapi bibirnya terlalu kaku. Rara hanya memainkan ponselnya, melihat ulang barisan chat dari grup kelasnya. Tapi satu hal yang sama-sama mereka rasakan, mobil ini dulu tempat mereka berbagi kasih, tapi sekarang hanya tempat persinggahan tanpa kenangan.

Gunawan menepi di halaman rumah Rara. Mesin mobil masih menyala. Rara membuka pintu mobil. Hujan sudah mulai reda.

Gun "katanya sebelum turun. "Terima kasih karena masih mau mengerti aku."

Gunawan tersenyum kecil. Ia tahu maksud Rara. "Terima kasih juga karena tidak membenci."

Rara turun dan melangkah pergi. Kali ini, langkahnya tidak seberat dulu.

Di dalam mobil, Gunawan menatap ke arah Rara sampai sosoknya hilang di balik hujan yang menipis. Kejadian kecil itu tidak menyelesaikan segalanya. Tapi cukup untuk memastikan keheningan mereka bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih jujur.

Sejak hari hujan itu, tidak ada perubahan besar yang diumumkan. Yang ada hanya kebiasaan kecil yang tumbuh pelan-pelan. Pesan datang lagi, tapi jarang. Panggilan terjadi lagi, tapi singkat. 

Rara masih sering menjaga jarak bukan menjauh, tapi tidak lagi melangkah terlalu dekat. Ia belajar membiarkan perasaannya hadir tanpa harus dikejar. Gunawan pun sama. Ia tidak lagi ingin membuktikan apa pun, hanya ingin ada.

Di rumah, Rara menulis lagi di catatannya, Kali ini aku tidak sedang menunggu kepastian. Aku sedang belajar hadir.

Dan di kota lain, Gunawan mematikan ponselnya dengan perasaan yang asing, tenang tanpa euforia. Ia sadar, ini bukan tentang kembali seperti dulu, tapi tentang menjadi versi yang lebih jujur dan kesadaran untuk saling menjaga, bahkan saat masa depan belum berani disebutkan.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang