Setelah deep talk dengan Gunawan dan sahabat-sahabatnya, Rara merasa jauh lebih tenang. Dia tidak akan terlalu memikirkan lagi apa yang orang lain sangkakan kepadanya. Biarkan orang menilai sendiri tanpa harus Rara klarifikasi.
Hubungannya dengan Gunawan juga tidak ada masalah, mereka menjalani seperti biasanya. Gunawan seolah ingin membuktikan apa yang Aulia tuduhkan kepada Rara, sama sekali tidak terbukti. Namun berbanding terbalik dengan Aulia, bukannya mereda, amarahnya justru semakin menjadi-jadi, ia semakin kesal melihat keharmonisan mereka.
Emang mereka kira aku gak bisa apa-apa? Rara tuh cuma beruntung, Gunawan cuma kasihan sama dia "racau Aulia
Tapi semakin ia berbicara, semakin ia sadar bahwa yang sebenarnya ia rasakan adalah iri. Iri melihat Gunawan selalu memperhatikan Rara. Iri ketika Rara punya sahabat yang selalu membelanya. Iri karena semua orang selalu membela Rara, sementara dirinya sendiri hanya menjadi bayangan yang tak dianggap.
Antara Rara dan Aulia seperti ada perang dingin. Tidak ada tegur sapa lagi diantara mereka. Suasana kelas pun menjadi canggung tidak seperti biasa. Rara dan Aulia seolah terpisah oleh dinding tak kasatmata, saling tahu keberadaan satu sama lain, namun memilih untuk tidak mengakui.
Rara kini lebih tenang. Sikapnya menjadi lebih dewasa, ia tidak lagi terpancing, tidak lagi merasa perlu menjelaskan siapa dirinya kepada orang-orang yang sudah memutuskan untuk tidak percaya. Sahabat-sahabatnya selalu berada di dekatnya, memastikan tidak ada celah bagi pikiran buruk kembali merayap.
Sebaliknya, Aulia terlihat semakin gelisah dari hari ke hari. Bukan karena Rara berbuat sesuatu, tapi karena Rara tidak melakukan apa pun. Tidak marah. Tidak membalas. Tidak mencoba merusak balik. Dan dalam diam itu, Aulia merasa seakan dirinya yang justru tampak bersalah. Cemburu, iri, kesal semua bercampur jadi satu ketika melihat Rara tertawa bersama sahabat-sahabatnya.
Sejak saat itu Aulia lebih memilih berteman dengan Rena dan Irna, temannya di PMR. Bahkan dengan Dian teman sebangkunya pun, Aulia seperti menjaga jarak. Karena Aulia tahu Dian lebih percaya terhadap Rara dari pada dirinya. Di kelas, Aulia seperti berada di dunia lain. Hanya kesunyian yang datang menyapa. Dan dalam sunyi itu, Aulia benar-benar merasa sendirian. Bahkan beberapa teman dari kelas lain pun seperti menjauhinya. Mereka hanya menganggap Aulia anak guru yang harus dihargai karena ayahnya.
Pagi ini di kelas menjadi sedikit lebih ramai karena hampir setengah dari jumlah siswa mendapat undangan untuk seleksi kepengurusan OSIS. Mereka yang mendapat undangan tentu saja yang sudah tergabung di ekskul wajib dan beberapa di pilih langsung oleh pembina OSIS.
Ra masa kamu gak dapet sih? "tanya Dian heran
Iya, aku aja dapet. Harusnya kamu juga dapet, apalagi kamu berprestasi "timpal Putri yang merasa heran dirinya mendapat undangan
Ya udah sih gapapa. Aku juga tidak mengharapkan "jawab Rara dengan santai. Tak lama Gunawan, Faul dan Hari menghampiri mereka. Sedangkan Aulia entah pergi kemana, sejak menerima undangan langsung menghilang
Ada apa nih? Kamu dapet undangan juga kan Ra? "tanya Hari yang mendudukkan dirinya dibangku Aulia
Enggak "Rara menggelengkan kepalanya lalu mendongak ke arah Gunawan yang berdiri di sampingnya, Gunawan menyerahkan undangannya kepada Rara
Ya udah kalian barengan aja nanti "ucap Rara setelah membaca undangan Gunawan
Kamu gimana? Nanti ditemenin siapa? "tanya Gunawan khawatir
Belum tahu, siapa tahu yang lain juga dapet kan "Rara menaikkan bahunya
Harusnya Rara dapet gak sih, kan dia peringkat dua di kelas "ucap Faul
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
